SIGIT KINDARTO

"SELAMAT DATANG DI BLOG ....."SANG PENJAGA SEKOLAH"....."

Senin, 26 Juli 2021

Pentingnya Pendidikan Karakter



Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd.
Guru SMP Negeri 7 Cilacap
Peraih Juara I Guru SMP Berprestasi
Tingkat Kabupaen Cilacap Tahun 2016

Perkembangan masyarakat Indonesia saat ini tampaknya sedang menuju perpecahan / disintegrasi. Luasnya wilayah dan beranekaragamnya perbedaan yang dimiliki masyarakat menjadi sebuah senjata untuk meraih kedaulatan, saat ini seolah menjadi bumerang. Masyarakat yang dahulu terkenal santun, ramah, tenggang rasa, tepo sliro  dan menjunjung nilai – nilai kejujuran, kebersamaan (baca : gotong royong), kini seolah berubah menjadi sebuah komunitas yang hedonis, individualis, agresif, mudah marah, anarkhis dan sectarian. Hal ini tampak dari perangai masyarakat yang tercermin dalam berbagai peristiwa kerusuhan, penjarahan, bentrok antar kampung, perkelahian pelajar maupun tawuran antar mahasiswa, dan korupsi di segala lini.

Sebagai praktisi pendidikan peristiwa di atas menjadi renungan dan memunculkan  berbagai pertanyaan untuk dicari jawabannya. Mengapa karakter masyarakat Indonesia mengalami kerusakan ? Apakah proses pendidikan yang selama ini di terapkan dalam pembelajaran kurang menekankan pentingnya aspek pengembangan karakter dan penanaman moral pada siswa ?

Kita perlu mengingat dan mencoba untuk merekonstruksi ulang Pidato Bung Karno yang disampaikan pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke 22. Dalam kesempatan tersebut Bung Karno berpidato dengan semangat berapi – api “  

….. dalam tahap awal, yang pertama-tama harus dibangun oleh negara ini adalah karakternya, ya, Nation Character Building, yaitu membangun bangsa dari kemorosotan jaman kolonial untuk dijadikan bangsa “berjiwa” yang dapat dan mampu menghadapi semua tantangan. Suatu bangsa yang merdeka dalam abad 20. Sesungguhnya, bahwa membangun suatu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya membangun jiwa bangsa. Bukankah demikian? Tentu saja keahlian perlu, namun keahlian saja tanpa dilandasi jiwa yang besar, tidak akan mencapai tujuannya. Ini adalah sebab mutlak diperlukannya Nation and character Building.

Krisis multidimensi dan keterpurukan bangsa, pada hakekatnya bersumber dari jati diri dan kegagalan dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa. Dalam konteks pendidikan formal di sekolah, salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih menitikberatkan pada pengembangan intelektual atau kognitif dan kurang memperhatikan aspek afektif, sehingga hanya tercetak generasi yang pintar, tetapi tidak memiliki karakter yang dibutuhkan bangsa. Selain itu, sistem pendidikan yang top-down, dengan menempatkan guru untuk mentransfer bahan ajar ke subjek didik, dan subjek didik hanya menampung apa yang disampaikan guru tanpa mencoba berpikir lebih jauh, minimal terjadi proses seleksi secara kritis. Praktik pendidikan yang cenderung kognitif intelektualistik, perlu direvitalisasi sebagai wahana pengembangan pendidikan karakter bangsa, pembangunan kecerdasan, akhlak dan kepribadian peserta didik secara utuh sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya). Dalam Undang - Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Naional ditegaskan bahwa :

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

 Pendidikan memiliki peran yang sangat penting, bukan hanya menghasilkan warga belajar dengan prestasi tinggi tetapi mampu melahirkan generasi baru yang memiliki karakter yang baik dan bermanfaat bagi masa depan bangsa. Penanaman pendidikan karakter sudah tidak bisa ditawar untuk diabaikan, terutama pada pembelajaran di sekolah disamping lingkungan keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, menurut upaya yang telah digaungkan oleh Soekarno bahwa inkulkasi moral menempati posisi sentral dalam sebuah pembangunan bangsa, maka semua komponen bangsa hendaknya berpartisipasi aktif menggalakan penanaman nilai karakter.

Di lingkup institusi pendidikan, guru menjadi corong sekaligus pelaku / praktisi dalam implementasi pendidikan karakter ini. Kemajuan suatu bangsa sangat tergantung bagaimana karakter orang-orangnya, kemampuan intelegensinya, keunggulan berpikir warganya, sinergi para pemimpinnya, dan lain sebagainya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah penting dalam membangun moral dan kepribadian bangsa.

Buku ini merupakan buah pikir dari guru / praktisi pendidikan yang prihatin terhadap kondisi masyarakatnya (baca : siswa, khususnya) yang mengalami degradasi moral. Buku ini dipersembahkan kepada semua pihak yang memiliki kepedulian terhadap gerakan membangun karakter dan moral bangsa. Penulis mencoba berperan aktif memberi solusi khususnya dalam merefleksikan inkulkasi moral dalam proses pembelajaran di kelas. Kajian ini memberikan wawasan pada pembaca bagaimana menerapkan / melakukan implementasi pembelajaran berbasis karakter. Ada 6 (enam)  pokok kajian yang harus diperhatikan dalam pendidikan karakter yaitu :

Perilaku Sosial Agresif dalam Kajian Pendidikan Karakter berisi tentang   factor penyebab agresifitas dalam masyarakat, pemicu dan pengaruhnya dalam proses kehidupan social kemasyarakatan, dilengkapi juga dengan jenis – jenis perilaku negative yang bertentangan dengan prinsip – prinsip manusia berkarakter serta penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat (deviation). Upaya pencegahan perlu menjadi perhatian bagi segenap pendidik agar siswanya tidak terjerumus dalam pola perilaku agresfi dan negative juga diungkapkan secara sistematis dan runtut sehingga mudah diimplementasikan dalam proses pembelajaran.

Kedua, berisi pembahasan mengenai Perilaku Sosial Positif dalam Kajian Pendidikan Karakter. Kajian dalam bagian adalah mengenai nilai-nilai yang diharapkan bukan sebagai pengetahuan saja (moral knowing), namun menjadi sebuah sikap (moral feeling) dan membentuk tindakan atau perilaku (moral action). Jenis – jenis perilaku positive dipaparkan secara gamblang dalam bab ini. Sebagaimana yang telah dirumuskan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) dibahas juga tentang 18 jenis karakter positive yang menjadi kompetensi karakter siswa yang harus dicapai dalam proses pembelajaran. Pada konteks mikro pengembangan karakter berlangsung dalam konteks suatu satuan pendidikan atau sekolah secara holistik (the whole school reform). Sekolah sebagai leading sector, berupaya memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi, memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus menerus proses pendidikan karakter di sekolah (school culture) dengan mengedepankan olah hati, olah rasa, olah raga dan olah karsa. Pemberdayaan karakter positive secara habituasi dan inkulkasi menjadi bagian penting untuk dikaji.

Ketiga, Pendidikan Moral Melalui Pendekatan Kognitif. Para praktisi pendidikan selama ini terjebak dalam pembelajaran yang mengutamakan hasil belajar. Hasil belajar seorang siswa bersifat evolutif (setapak demi setapak), proses keterlibatan belajar siswa sekaligus telah mencerminkan arah serta kualitas hasilnya, dan kecakapan memproses diri dalam belajarnya (adanya rencana kerja, disiplin waktu, pilihan metodologis yang tepat, dan pendayagunaan fasilitas secara efisien) juga merupakan hasil belajar siswa yang penting dan mendasar. Perhatian yang berlebihan terhadap hasil belajar dan cenderung kurang meneliti proses pencapaiannya, akan berakibat hadirnya manusia Indonesia yang hanya cerdas secara pengetahuan, tetapi dengan pengetahuan yang tinggi tersebut justru banyak yang terjebak bertindak di luar tatanan moral yang berlaku di lingkungan masyarakat. Ranah kognitif mempunyai arti penting dalam proses belajar siswa. Ranah kejiwaan yang berkedudukan pada otak ini, dalam perspektif  psikologi kognitif, adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya, yakni ranah afektif (rasa) dan ranah psikomotor (karsa). Tidak seperti organ tubuh lainnya, organ otak sebagai pusat  fungsi kognitif bukan hanya menjadi penggerak aktivitas akal pikiran, melainkan juga pengontrol perasaan dan perbuatan. Sekali kita kehilangan fungsi kognitif karena kerusakan berat pada otak, martabat kita hanya beda sedikit dengan hewan. Tanpa ranah kognitif, sulit dibayangkan seorang siswa dapat berfikir. Selanjutnya tanpa kemampuan berfikir mustahil siswa tersebut dapat memahami dan meyakini faidah materi-materi pelajaran yang disajikan kepadanya. Tanpa berfikir juga sulit bagi siswa untuk menangkap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran yang ia pelajari.

Keempat, Pendekatan Afektif dalam Pendidikan Nilai. Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi dan nilai. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku, seperti perhatiannnya terhadap mata pelajaran, kedisiplinannya dalam mengikuti di sekolah, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai pelajaran yang di terimanya, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru dan sebagainya. Dalam bagian ini juga dibahas tentang instrument penilaian ranah afektif sehingga memudahkan para praktisi pendidikan untuk mengadopsi format penilaian untuk diimplementasikan dalam proses pembelajaran.

Kelima, Pendekatan Komprehensif dalam Pendidikan Nilai. Pembahasan berupa pengertian dari Pendekatan komprehensif yang digunakan dalam pendidikan nilai dan cakupannya yang terdiri beberapa aspek (Darmiyati Zuchdi, 2012: 11) yaitu a), komprehensif harus nampak pada isi pendidikan nilai yang meliputi semua permasalahan yang berkaitan dengan nilai yang bersifat pribadi sampai pada pertanyaan etika secara umum. b), metode pendidikan nilai juga harus komprehensif antara metode tradisional seperti inkulkasi (penanaman) nilai dan pemberian teladan, juga metode kontemporer yang terdiri dari fasilitasi pembuatan keputusan moral secara bertanggungjawab dan pengembangan keterampilan hidup atau soft skill. c), pendidikan nilai sebaiknya terjadi di dalam keseluruhan proses pendidikan baik di kelas, ekstrakurikuler, bimbingan dan penyuluhan, dan semua aspek kehidupan. d), pendidikan nilai hendaknya terjadi di dalam kehidupan masyarakat, sehingga orang tua, lembaga keagamaan, penegak hukum, polisi, organisasi kemasyarakatan.

Keenam, Evaluasi Pendidikan Nilai. Evaluasi pendidikan nilai dilakukan secara komprehensif dengan menggunakan instrument evaluasi yang baik. Karena evaluasi pendidikan nilai/moral harus dapat menggambarkan secara akurat, baik pemikiran/penalaran moral, afek moral (hubungan dengan perasaan atau hati nurani), maupun perilaku moral (moral action), maka perlu dikembangkan instrument evaluasi untuk ketiga ranah tersebut. Pengembangan ketiga jenis instrument tersebut dapat didasarkan pada perkembangan penalaran moral oleh Kohlberg. Maksud evaluasi belajar afektif adalah menempatkan seseorang atau suatu kelompok pada beberapa titik rentang skala afektif (untuk pengukuran). Evaluasi afektif harus terpisah dari evaluasi kognitif namun hasil evaluasi afektif dapat dilaporkan bersama-sama dengan hasil evaluasi kognitif. Hasil evaluasi afektif digunakan dalam membuat keputusan yang menyeluruh pada diri siswa.

Pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) dan penanaman (inculcating) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Dengan demikian apa yang dikumandangkan oleh Presiden Sukarno pada HUT RI ke 22 dapat terwujud, dan Indonesia  menjadi bangsa yang besar dan berkarakter, mampu bersaing dengan bangsa – bangsa lain. Lebih jauh daripada itu adalah terciptanya masyarakat yang santun, berkepribadian luhur dan makmur, sejahtera serta bahagia.

Guru adalah salah satu komponen negara yang bertugas untuk dapat membentuk karakter bangsa melalui dunia pendidikan secara formal. Tantangan mulia ini menjadi bagian integral menuju tujuan pendidikan nasional sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maupun amanat  UUD 1945 menjadi landasan konstitusional Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu, langkah nyata meski kecil menuju perbaikan  lebih utama dari pada tidak berbuat apapun untuk perbaikan bangsa ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 16 April 2021

BELAJAR WIRA NIAGA DENGAN MENCIPTA KULINER UNIK


Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd.
Guru SMP Negeri 7 Cilacap
Fasda Pembelajaran Tanoto Foundation Cilacap
Peraih Fasilitator Daerah Terbaik Tingkat Jawa Tengah

Tahun 2020

 


Kondisi geografis Indonesia memungkinkan banyaknya tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita. Tumbuhan ini menjadi modal dan sumber belajar bagi lingkungan pendidikan. Dengan menggunakan metode kontekstual maka lingkungan menjadi sumber belajar utama dalam pembelajaran ini.

Mata Pelajaran IPS adalah mata pelajaran yang sangat dekat dengan aktivitas keseharian peserta didik. Oleh karena itu, guru perlu memanfaatkan kedekatan lingkungan peserta didik ini menjadi tema dalam pembelajaran yang dilakukannya dikaitkan dengan kompetensi dasar yang ada dalam struktur kurikulumnya.

Secara umum, pembelajaran IPS bertujuan mengembangkan pengetahuan, keterampilan sosial, kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama, kemampuan memecahkan masalah, serta komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan sebagai perwujudan warga negara yang baik. Oleh karena itu, pembelajran berbasis aktivitas akan memberikan nilai tambah dan bermakna bagi peserta didik

Dalam salah satu kompetensi dasar IPS ada materi mengenai produksi, distribusi dan konsumsi. Materi ini mengajarkan kepada peserta didik untuk dapat mengulik lebih dalam hal-hal terkait dengan berbagai macam kegiatan memproduksi barang dan jasa agar peserta didik mempunyai bekal dan keterampilan untuk menghasilkan jenis-jenis produksi baik barang maupun jasa.

Di SMP Negeri 7 Cilacap mata pelajaran IPS untuk kompetensi dasar produksi, distribusi dan konsumsi diarahkan agar peserta didik mampu menciptakan berbagai jenis kuliner unik yang belum ada di pasaran. Sumber kuliner harus diperoleh dari bahan-bahan yang ada di sekitar tempat tinggal peserta didik berupa hasil pertanian maupun perkebunan yang selama ini belum dilirik dan dijadikan sebagai bahan kuliner oleh pelaku boga.

Selaku guru IPS berusaha untuk menggerakkan peserta didik mampu berkreasi, mengkonsep, memproduksi dan memperdagangkan produk boga unik yang belum ada di pasaran sekaligus sebagai sarana berlatih wira niaga. Jenis kuliner yang dicipta boleh mirip atau merupakan inovasi dari berbagai jenis boga yang sudah ada.  Tujuannya adalah peserta didik mampu mengolah ide kuliner untuk dimanfaatkan memberi alternatif menu boga unik serta mengatasi kelangkaan akibat tingginya pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia dan membiasakan berkreasi dengan ide-ide nyentriknya dan dari 5 kelas yang ditugasi tercipta 124 jenis kuliner baru.

Semua kuliner unik ketika sebelum masa pandemi dikemas untuk ditawarkan dan didistribusikan ke setiap kelas dan ruang guru yang ada di SMP Negeri 7 Cilacap secara berkelompok dan bergilir. Setiap kelompok terdiri dari 4 orang sehingga ketika mempromosikan produknya mempunyai kesempatan yang sama dalam menawarkan hasil kulinernya. Untuk memeriahkan kegiatan ini juga di beri nama Hari Berniaga Espentu. Dari kegiatan ini terkumpul dana hasil penjualan yang cukup besar yaitu Rp. 1.872.500. Literasi finansial sekaligus menjadi bagian dalam pengelolaan hasil kegiatan ini.

 

Pandemi Covid-19 mengakibatkan terjadi perubahan moda pembelajaran dari luring menjadi daring. Hari Berniaga Espentu-pun juga mengikuti moda pembelajaran yang dilaksanakan. Kegiatan pembelajaran berbasis aktivitas yang dikemas menjadi Hari Berniaga ini  dimaksudkan sebagai upaya melatih BERWIRA NIAGA. Kegiatan ini  sekaligus juga mempraktikkan model pembelajaran MIKiR. Bagaimana MIKiR ini dapat diterapkan ? Karena peserta didik Mengalami secara langsung untuk mengkonsep, menggali ide, mengamati lingkungan dalam mencari bahan baku untuk jadikan sebagai Boga Uniknya. Interaksinya dilakukan peserta didik dengan sesama peserta dalam menentukan bahan dan nama kuliner yang diciptakannya melalui media sosial kelas agar tidak terjadi nama boga yang sama dengan bahan yang sama pula, Komunikasi dilakukan oleh peserta didika ketia melakukan promosiatau penawaran hasil karyanya kepada para konsumennya. Refleski dilakukan ketika akhir pekan pembelajaran setelah peserta melakukan proses penjualan, kesulitan atau apa manfaat yang dirasakan peserta didik dengan melaksanakan kegiatan ini.

Langkah-langkah melaksanakan latihan berwira niaga di Hari Berniaga Espentu di masa daring adalah sebagai berikut : 1) Guru Memberikan arahan pembelajaran menggunakan Aplikasi Plotagon tentang Materi Pokok Ekonomi atau PPT. 2). Membuat LKPD IPS tentang pembuatan Kuliner Unik yang belum ada di pasaran berbahan baku hasil pertanian dan perkebunan. 3). Aplikasi Plotagon/PPT dan LKPD di upload guru di kelas virtual bisa menggunakan google classroom maupun WA grup kelas. 4). Guru dan Peserta didik melakukan diskusi pembelajaran dalam tatap muka virtual di Forum WA Messenger 5).  Setelah ada kesepahaman tetang pembelajaran materi pokok ekonomi, peserta didik dan guru melakukan interaksi secara chatting di grup WA sampai berproses menentukan produk kuliner uniknya. 6). Di hari pembelajaran minggu berikutnya semua peserta didik melakukan gelar karya hasil ciptaan kuliner uniknya di media sosial sekolah maupun pribadi dengan deskripsi produknya berupa bahan, proses produksi, harga, keunggulan kuliner yang dibuat.

Gelar karya secara maya ini juga unik karena ternyata konsumen selaku pembeli produk juga harus daring dalam melakukan transaksi. Meski demikian pangsa pasar yang terbuka luas tersebut belum sepenuhnya disambut luas masyarakat, karena ternyata pembelinya baru sesama temannya, dalam rangka memeriahkan hari berniaga. Ini mungkin promosinya yang harus lebih diintensifkan di waktu mendatang.  

Meski Hari Berniaga sebagai upaya melatih Berwira Niaga kepada peserta didik dengan menggunakan moda daring ini tidak semeriah ketika era tatap muka, namun peserta didik merasakan merdeka belajar selaras dengan yang sedang digalakkan oleh Pemerintah. Guru bersifat sebagai fasilitator dan motivator bagi proses pembelajaran yang dialami oleh siswa. Proses model pembelajaran semacam ini memberikan keyakinan bahwa peserta didik di masanya nanti akan mampu menjadi wira usahawan handal dan kreatif  yang mampu mensiasati keadaan dan mampu bertahan dalam setiap kondisi.



 

Sabtu, 14 November 2020

KEPINGAN ANGAN MEWUJUD NYATA

Oleh :

Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd.

Ketua Umum K'Gum Kabupaten Cilacap

 

Kala itu....

Di Sabtu senja yang cerah, di saat Mentari mulai menggerakkan tubuhnya menjemput temaran, bertepatan dengan tanggal 1 Desember 2018 di Warung Makan Lombok Ijo 3  Rawa Bendungan, menjadi langkah awal bagi derapnya sekelompok insan yang menggengam idealisme  untuk menggerakkan literasi para Pemantik Masa depan bangsa di Kota Bercahaya.

Berinisiasi di tengah stagnasi gelombang pesimistis dan ciut nyali dari pelukis masa depan pertiwi ibarat mengejar fatamorgana yang dianggap sebagai sebuah kebenaran. Mind set yang dibangun oleh beberapa pegiat literasi terdahulu meneguhkan bahwa menata kata mengungkap hasrat dalam untaian kalimat bermakna memang perlu perjuangan dan ketekunan yang tidak semua pribadi mampu mewujudkannya dalam sebuah karya buku yang perlente. Dalam era ini penerbitan buku menjadi milik penguasa kata “borjouis” yang telah melangkah duluan, yang berharap tidak akan banyak yang mampu mengikutinya. Tataran ini hanya milik kalangan dan kelompok terbatas saja.

Itu yang diharapkan oleh Sang Borjouis Kata di masa lalu.......

 

Tetapi kini....

Ketika “5 Sekawan” menyatu dalam tindak dan asa yang se-rasa, mencoba mendobrak tembok keangkuhan Sang Borjouis Kata, dan dengan kekuatan yang terhimpun mampu membalikkan keadaan.

 

5 Sekawan tersebut adalah...

1.      Wuri Handayani, S.Pd., Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dari SMP Negeri 7 Cilacap

2.      Purwati, S.Pd., Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dari SMP Negeri 3 Kesugihan

3.      Zaenal Arifin, S.Pd., M.Pd., Guru Mata pelajaran IPS dari SMP Negeri 2 Kroya

4.      Pujiati, S.Pd.,Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dari SMP Negeri 3 Kesugihan

5.      Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd., Guru Mata Pelajaran IPS dari SMP Negeri 7 Cilacap

Bersepakat dan bertekad untuk membangun ekosistem literasi baru yang mudah dan murah untuk mewujud berkeping-keping hasrat yang telah mengerak terpendam lama di Bumi Wijayakusuma. Wadah yang kemudian dipatenkan untuk menaungi rencana semua aktivitas yang direncanakan adalah Komunitas Guru Menulis yang oleh Sigit Kindarto diusulkan disingkat K’Gum dan disetujui oleh keempat peserta lainnya. Kebutuhan dan kewajiban akan pengembangan diri, penulisan karya tulis ilmiah dan  publikasinya dari Ibu Bapak Guru untuk keperluan kenaikan pangkat seolah menjadi monster yang menghalangi langkah menggapai jenjang kepangkatan selanjutnya.

 

 Berbekal pertemuan awal di Sabtu, 1 Desember 2018 tersebut kemudian dilakukan perluasan jejaring untuk merekrut team kerja yang mau bergabung dan berjuang menggerakkan kelahiran bayi K’Gum ini. Komunikasi senantiasa dilakukan ke berbagai komponen yang diperkirakan mau dan bersedia bersinergi dengan komunitas ini.

Alhamdulillah  hasil tidak mengkhianati proses yang dilakukan ....

Ibarat gayung bersambut,

Gayung yang dilemparkan K’Gum Cilacap di sambut mesra oleh Balai Bahasa Jawa Tengah pimpinan Dr. Tirto Suwondo, M.Hum dan sekaligus  membidani lahirnya Komunitas Guru Menulis (K’Gum) di Kabupaten Cilacap. Gayung komunitas ini ternyata ditangkap juga oleh PGRI Kabupaten Cilacap, yang bersedia memayunginya dalam aktivitas dan memback-up kegiatan perdana K’Gum serta melantik kepengurusan K’Gum di bawah Sekbid Pengembangan Profesi yang diketuai Dra. Hj. Susi Widayati, M.M.Pd.

Event perdana yang digelar K’Gum Cilacap adalah Lokakarya Penulisan Buku “SANDI SAKA” (Satu Pendidik Satu Karya)  dilaksanakan pada 24-25 Maret 2019. Sebuah upaya untuk memperkenalkan diri atas kelahiran Komunitas Guru Menulis kepada Ibu Bapak Guru dari jenjang TK, SD, SMP, SMA/K di Cilacap dan sekitarnya. Target peserta yang hanya 150 peserta membengkak menjadi 250 peserta. Sebuah kepercayaan yang luar biasa dari guru-guru di Cilacap kepada K’Gum di usianya yang baru 3 bulan berjalan. Kegiatan Sandi Saka ini diisi teknik menulis jitu dari Bapak Dr. Tirto Suwondo, M.Hum., juga berbagi pengalaman menulis dengan mudah dari rekan-rekan guru yang sudah terbit karyanya, seperti Pujiati, S.Pd., Purwati, S.Pd, Lili Kuswati, M.Pd., Nyimas Srihartati, S.Pd., Zaenal Arifin, S.Pd., M.Pd., Warsono, S.Pd., M.Pd., dan Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd.

Kegiatan Sandi Saka ini sekaligus sebagai hari pelantikan Pengurus K’Gum Cilacap untuk periode 2019-2023. Pelantikan dilakukan oleh Ketua Umum PGRI Kabupaten Cilacap, Wuyung Sulistyo Pambudi, S.Pd., M.Pd., bertempat di Aula Al-Azhar Jalan Galunggung Cilacap. Susunan Pengurus Komunitas Guru Menulis (K’Gum) Kabupaten Cilacap adalah sebagai berikut :

PELINDUNG                         : Wuyung Sulistyo Pamudi, S.Pd.,M.Pd.                       

                                                  Ketua Pengurus PGRI Kabupaten Cilacap

DEWAN PENASEHAT

1.      Ketua                                 : Dra. Susi Widayati, M.M.Pd.

2.      Anggota                             : M. Timbul Purnomo, S.Pd., M.M.Pd.

  Sutikno, S.Pd., M.M. 

DEWAN PEMBINA

1.      Ketua                                 : Marjoko, S.Pd.,M.Pd.

2.      Anggota                             : Drs. H. Ahmad Zaenul Arifin, M.Pd.

  Suswandi, S.Pd.,M.Pd.

  Rangga Jemana, S.Pd.,M.Pd.

  Drs. Sutarno, M.Pd.

DEWAN PELAKSANA

1.      Ketua Umum                     : Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd.

2.      Sekretaris                           : Zaenal Arifin, S.Pd., M.Pd.   

   Purwati, S.Pd.

3.      Bendahara                         : Wuri Handayani, S.Pd.

  Endang Wuri Maryati, S.Pd.

4.      Bidang-Bidang                   :

Bidang Pengembangan Kompetensi Kepenulisan

1.      Warsono, S.Pd.,M.Pd.                                      3. Puryanti, M.Pd.

2.      Ilawati, S.S.                                                      4. Sri Astuti R. Maharani, S.Pd., M.Pd.

Bidang Publikasi dan Penerbitan

1.      Nyimas Siti Hartati, S.Si.                                  3. Anggun Sugoro, S.Pd., M.Eng.

2.      Sarni, S.Pd.,M.M.                                             4. Sudrajat, S.Pd., M.Pd.

Bidang Penelitian dan Pengembangan

1.      Onten Surtini, S.Pd.                                         3. Wheni Dewi Sumiratsih, S.Pd.

2.      Sugiarto, S.Pd.                                                 4. Siti Nuraeni, S.Pd.

Bidang Relasi dan Komunikasi

1.      Bambang Joko Sunarto, S.Pd.                          3. Bhayu Anggita Subarkah, S.Pd.

2.      Bangun Amirudin, S.Pd.                                  4. Ihda Fatihaturrahmawati, S.Si.

Bidang Pembinaan dan Rekruitmen Anggota

1.      Pujiati, S.Pd.                                                    3. Ratino, S.S.

2.      Sri Rahayu, S.Pd.                                             4. Feby Nurliana, S.Pd.

Bidang Pengabdian pada Masyarakat

1.      Heri Suprapto, S.Pd.                                       3. Patmiyanto, S.Pd.

2.      Cheska Nur Aini, S.Pd.                                  4. Asih Andriani, S.Pd., M.Pd.

Bidang Pengembangan dan Pemanfaatan IT

1.      Akhyar, S.Pd.                         

2.      Kasmiyana Sulistiowati, S.Pd.                                                                         

 Buah dari kegiatan Sandi Saka I ternyata di luar prediksi banyak pihak termasuk pengurus K’Gum. Selama berproses 1 tahun berjalan karya buku dari peserta berjumlah 82 guru berhasil menulis naskah buku dengan 102 judul. Sebuah prestasi yang membanggakan dari peserta Sandi Saka jilid I ini.

Berdasarkan pergerakan naskah buku yang demikian cepat, pada tanggal 26 November sampai 1 Desember 2019, K’Gum kemudian menyelenggarakan kegiatan “Launching Buku dan Pameran Buku” karya penulis K’Gum diikuti dengan kegiatan “Pekan Literasi K’Gum” berisi lomba-lomba untuk siswa SMP berupa cipta puisi dan cipta cerpen, kemudian untuk SMA berupa lomba resensi buku karya penulis K’Gum. Pekan literasi dilaksanakan di Gedung Dwijaloka PGRI Cilacap.

Antusiasme dan respon dari Ibu Bapak guru di Cilacap terhadap kegiatan yang diselenggarakan K’Gum memberi suntikan semangat pengurus untuk terus bergerak memberikan motivasi, fasilitasi kepada setiap komponen pendidik di wilayah Cilacap dan sekitarnya untuk mewujud karya. Lahirlah event Lokakarya Penulisan Buku Sandi Saka Jilid 2 yang direncanakan pada 28-29 Maret 2020, akan tetapi karena ada wabah pandemi Covid-19 tertunda baru dilaksanakan pada 8-9 September 2020 secara daring. Kegiatan ini terselenggara kerja bareng K’Gum dengan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Jumlah peserta mencapai 187 guru, tidak hanya dari Cilacap tetapi juga ada yang berasal dari Kabupaten Blora dan Brebes. Feedback peserta dari Sandi Saka Jilid 2 ini lebih luar biasa karena terkumpul 117 naskah yang diterbitkan dalam buku “Antologi Kisah Inspiratif Guru : Berkeping Hasrat Dalam Sandi Saka 2”, dengan Pengantar dari Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Bpk. Dr. Ganjar Harimansyah, M.Hum

Inovasi K’Gum dalam upaya m
enggait anggota adalah dengan membuat KTA yang multifungsi, sebuah terobosan yang dilakukan Pengurus untuk menarik minat anggota bergabung dengan K’Gum. Alhamdulillah sampai saat ini jumlah yang mencetak KTA K’Gum berjumlah 235 anggota.

Keuntungan dan fasilitas dari KTA K’Gum ini adalah Satu Kartu Untuk Semua Transakasi diantaranya :

1.        Fasilitas bagi pemegang KTA K'Gum akan mendapatkan diskont room rate dan diskont paket Meeting dari harga normal 10% di Hotel Sindoro Cilacap

2.        Di Toko Gramedia Cilacap, pemegang KTA K'Gum akan mendapatkan diskon belanja 10% untuk transaksi belanja dan akan mendapatkan bonus lanjutan apabila juga download aplikasi myvalue

3.        Di Bank Gunung Slamet pemegang KTA K'Gum akan mendapatkan souvernir menarik untuk transaksi Tabungan atau kredit

4.        KTA K'Gum dapat untuk belanja di Alfamart Indomaret atau swalayan lainnya Rita, Kato, Yogya  atau toko yg punya EDC BRI seluruh Indonesia

5.        E-Toll

6.        Parking

7.        Ticketing TRAIN dan FLIGHT

8.        Fuel Card (SPBU)

9.        KTA K'Gum dapat sebagai bukti keanggotaan untuk kenaikan pangkat / PAK

10.    Pemegang KTA K'Gum akan mendapatkan Diskont penerbitan Rp. 50.000 untuk penerbitan lewat K'Gum

 Klik tautan berikut untuk mendaftar dan cetak KTA dengan donasi Rp. 50.000

https://bit.ly/PendaftaranKTAKGum

  Dalam upaya menguatkan gerak K’Gum maka Pengurus K’Gum menjalin dan meluaskan jejaring dengan berbagai intansi naik negeri maupun swasta. Beberapa koneksi yang telah terhubung dengan K’Gum antara lain :

  1. Balai Bahasa Jawa Tengah
  2. Balai Pengembangan Muitimediia Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud
  3. PGRI Kabupaten Cilacap
  4. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cilacap
  5. Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Cilacap
  6. Tanoto Foundation
  7. Yes Radio Cilacap
  8. Satelit TV
  9. Satelit Post
  10. Dewangga Tour Travel
  11. ISPI Kabupaten Cilacap
  12. ISPI Provinsi Jawa
  13. Penerbit Kun Fayakun Jombang
  14. Wardah Cosmetics
  15. Bank Gunung Slamet Cilacap
  16. Teguh Jaya Advertising
  17. Daihatsu Mobil Cilacap
  18. Honda Sumber Mobil Cilacap
  19. Penerbit Adab Indramayu
  20. Yayasan Al-Azhar Cilacap
  21. SMP Negeri 7 Cilacap
  22. SMP  Negeri 1 Ulu Musi Palembang
  23. Penerbit Read Litera
  24. Zahra Publisher
  25. Farha Pustaka
  26. SMP Negeri 4 Sukoharjo Wonosobo
  27. BMT Al-Ikhwan Cilacap
  28. Penerbit Gramedia

Dalam usianya yang menjelang 2 tahun, K’Gum telah menderapkan aktivitasnya yang memberi dampak kepada perkembangan literasi tulis di Kabupaten Cilacap. Kegelapan gerak literasi tulis di Kota Bercahaya seolah kian menyemburatkan sinar terangnya sejak K’Gum hadir memberikan fasilitasi dalam motivasi, pendampingan penulisan dan penerbitan dengan slogan “Bersama K’Gum Menerbitkan Buku Jadi  Mudah dan Murah” deras mengalir naskah buku, baik genre fiksi maupun nonfiksi. Penulis dari setiap lini mempercayakan penerbitannya kepada K’Gum baik dari Guru TK, SD, SMP, SMA/K, Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah. Respon naskah buku tidak hanya berasal dari lingkungan Kabupaten Cilacap saja, akan tetapi juga berasal dari luar Cilacap berkat informasi yang didapat dari linimassa K’Gum gunakan seperti Facebook, Instagram, YouTube dan Website K’Gum. Penulis tersebut berasal dari Sumbawa Nusa Tenggara Barat, Sleman-Bantul-Kulonprogo DIY, Magelang-Wonosobo-Sragen Jawa Tengah, Solok Sumatera Barat, Medan Sumatera Utara, Lahat Sumatera Selatan dan Muna Sulawesi Tenggara. Dan derap itu tersaji dalam keping gambar di bawah.

Partisipasi K’Gum dalam event literasi di Cilacap juga mendapatkan perhatian dari forum literasi yang ada, karena K’Gum terlibat aktif dalam kegiatan tersebut :

 Meningkatnya animo joint penerbitan kepada K’Gum membuat Pengurus berupaya untuk meningkatkan kompetensi diri dengan mengikuti sertifikasi sebagai penyunting naskah maupun penulis yang diselenggarakan oleh BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi). Ada beberapa pengurus yang telah dinyatakan lulus dan berhak memperoleh sertifikat sebagai Penyunting Naskah yaitu Bapak Zaenal Arifin, S.Pd., M.Pd. dan Bapak Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd. sedangkan sebagai penulis yang telah dinyatakan berhak memiliki sertifikat Penulis adalah Ibu Wuri Handayani, S.Pd., Ibu Endang Wuri Maryati, S.Pd. dan Bapak Bangun Amirudin, S.Pd. Semua itu dilakukan untuk meningkatkan layanan dan ingin mewujudkan K’Gum sebagai Komunitas yang profesional.

Berharap keberadaan K’Gum semakin eksis dalam memasuki usia di tahun kedua ini, semakin memberi manfaat kepada para sejawat, mampu tumbuh dan berkembang bersama. Pengurus yang solid kompak dan kreatif . jejaring yang semakin meluas dan melebar. Dan jangka ke depan mampu membuat penerbitan sendiri. Semoga Alloh meridhoi usaha dan derap yang telah dilangkahkan berbuah berkah serta jariyah. Aamiin yaa robbal’alamin

Jembar Lestari, 17 November 2020

Selamat Ulang Tahun K’Gum yang ke 2 pada 1 Desember 2020

 

 

 

Sabtu, 18 April 2020

ToT Moda Daring Fasda Tanoto Kabupaten Cilacap

Menyikapi kondisi pandemi global Covid 19 saat ini, Tanoto Foundation tetap melaksanakan Training untuk wilayah kerja Kabupaten Cilacap. Dengan mengambil istilah ToT Daring Fasda (Fasilitator Daerah) di kabupaten Cilacap telah dilaksankan sebanyak dua kali yaitu hari Selasa tanggal 14 Arpil 2020 pukul 13.00 sampai dengan 16.30 dan hari Jumat tanggal 17 April 2020 pukul 08.00 sampai dengan 11.00. Dengan menggunakan fasilitas WeBex kegiatan ToT Daring Cilacap diikuti oleh semua Fasda Pembelajaran dan MBS. 
Materi disampaikan oleh Team Pendamping Tanoto Foundation jenjang SD oleh Bapak Seno Daud dan jenjang SMP oleh Bapak Syaiful. 
Dari materi yang diberikan adalah mengenai bagaimana melakukan pendampingan kepada Ibu Bapak Guru sasaran dalam melalukan pembelajaran Daring di era Covid 19 ini. Berbagai aplikasi dikenalkan dan ditawarkan untuk dapat diaplikasikan dalam pendampingan pembelajaran daring.
Moda daring yang dapat digunakan adalah :
1. SMS
2. WA Group
3. Google Classroom
4. Google Form
5. Zoom
6. WeBex
7. Telegram
8. Youtube
 Yang perlu diperhatikan kepada Fasda Pembelajaran dan MBS adalah ketika akan melakukan pendampingan yang menjadi fokus utamanya adalah kondisi riil pada siswa, Jangan sampai menggunakan aplikasi terkini sesuai perkembangan teknologi tetapi siswa belum menguasai atau tidak memilikinya.
Titik utama era Covid 19 adalah meski kondisi siswa dan Ibu Bapak Guru stay at Home, tetapi proses pembelajaran harus tetap berlangsung.
 Yang tidak kalah pentingnya juga harus dibedakan antara :
Pembelajaran Online dengan Pemberian Tugas Online
Keluhan yang banyak diberikan oleh orang tua atau siswa adalah Guru hanya memberi tugas lewat online tanpa adanya proses pembelajaran. Oleh karena itu, Fasda harus menghindari hal tersebut.
#tanotofoundation
#programpintar
#pintarjateng
#cilacappintar
#fasdacilacap
#stayathome
#tetapbelajar
#belajardaring