SIGIT KINDARTO

"SELAMAT DATANG DI BLOG ....."SANG PENJAGA SEKOLAH"....."

Senin, 19 Januari 2026

CAHAYA DI UJUNG JUZ : Aksi Karya dari Implementasi Boarding SchoolCAHAYA DI UJUNG JUZ : Aksi Karya dari Implementasi Boarding School

Oleh

Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd.

 


Di tengah gemuruh zaman dan tantangan moral yang kian kompleks, SMP Negeri 2 Kedungreja terus berikhtiar menghadirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam spiritualitas dan akhlak. Salah satu upaya nyata yang telah dilakukan adalah penyelenggaraan program boarding school atau sekolah berasrama, bekerja sama dengan Pondok Pesantren Bandaramas Jatisari Kedungreja yang diasuh langsung oleh Romo Kyai Mashadi Sya’roni, sosok kharismatik yang dikenal luas dalam membina generasi Qur’ani. Dan Pondok Pesantren Al-Itcon Bumireja, dengan Pengasuh Romo Kyai Syahrir Hambali. Program Boarding School ini diresmikan pelaksanaanya sejak 10 November 2023 yang ditandai dengan penyerahan santri/siswa dari pihak sekolah kepada pengasuh pondok di Al-Itcon dan Bandaramas.

Program boarding school ini menjadi alternatif sekaligus pelengkap pendidikan formal, di mana para peserta didik tidak hanya belajar mata pelajaran umum, tetapi juga mengikuti kegiatan kepesantrenan, termasuk pembinaan tahfidzul Qur’an secara rutin dan terstruktur. Salah satu pencapaian paling membanggakan dari program ini adalah keberhasilan sejumlah santri dalam menyelesaikan hafalan Juz ke-30 (Juz 'Amma), bagian penting dari Al-Qur’an yang menjadi fondasi awal para penghafal Kitabullah.

Kegiatan ini bukan semata menghafal, tetapi juga menanamkan kedalaman makna dan adab terhadap Al-Qur’an. Para santri menjalani proses panjang, dimulai dari setoran harian, pembinaan makhraj huruf, pelatihan tajwid, hingga evaluasi berkala yang ketat. Dan khusus untuk Pondok Pesantren Bandaramas telah berhasil mengkhatamkan Juz 30 dengan kegiatan halaqoh atau ujian terbuka, sebuah momen sakral di mana santri diminta membacakan hafalan secara langsung di hadapan Kyai Mashadi, dewan asatidz, serta perwakilan dari pihak sekolah.

Dalam suasana tenang dan penuh khidmat, satu per satu santri maju ke depan. Mereka duduk bersila, dengan wajah teduh dan suara yang gemetar oleh getar keikhlasan. Suasana menjadi hening ketika lantunan ayat-ayat suci bergema, menembus hati hadirin yang menyaksikan. Tidak sedikit yang menitikkan air mata haru, melihat anak-anak yang masih belia mampu menaklukkan tantangan hafalan dan menyampaikannya dengan penuh keyakinan dan adab.

Setelah dinyatakan lulus dalam halaqoh, para santri mengikuti prosesi wisuda Khatmil Qur’an yang digelar secara sederhana namun bermakna. Acara tersebut tidak hanya menjadi selebrasi atas capaian pribadi para santri, tetapi juga simbol keberhasilan kolaborasi antara institusi pendidikan formal dan lembaga pesantren. Dengan mengenakan busana putih bersih dan selempang bertuliskan Wisudawan Khatmil Qur’an Juz 30, para santri menerima sertifikat dan nasihat langsung dari Romo Kyai Mashadi, yang mengingatkan mereka agar tidak berhenti pada hafalan, tetapi terus meningkatkan kualitas bacaan, pemahaman, dan pengamalan isi Al-Qur’an.

Tak hanya pihak pesantren dan sekolah yang merasa bangga, para orang tua yang hadir pun tak mampu menyembunyikan rasa haru mereka. Sebagian bahkan menangis saat nama anaknya dipanggil dan dipersilakan maju menerima ijazah Khatmil Qur’an. Dalam pelukan hangat dan doa yang dilangitkan bersama, terselip harapan besar agar para wisudawan ini kelak menjadi lentera di tengah masyarakat—membawa cahaya Al-Qur’an dalam ucapan, tindakan, dan akhlaknya.

Kegiatan ini menjadi inspirasi bahwa meskipun berada di sekolah negeri, pendidikan agama yang intensif tetap dapat dikembangkan dengan baik melalui kerja sama yang sinergis. Program boarding school SMP Negeri 2 Kedungreja adalah bukti bahwa dengan niat dan manajemen yang kuat, pendidikan yang menyatu antara dunia dan akhirat bukanlah mimpi semu.

Peserta kegiatan boarding school ini sejak dibuka pendaftarannya pada bulan Juli 2023 berjumlah 63 siswa kelas VII yang kemudian mengikuti boarding school yang dibagi penempatannya di kedua pondok tersebut, yaitu Pondok Al-Itcon dan Pondok Bandaramas. Melalui program ini pula, semangat mencintai dan menghafal Al-Qur’an tidak hanya menjadi milik para santri, tapi menjalar ke seluruh elemen sekolah. Tidak sedikit siswa lain yang kini terinspirasi untuk ikut bergabung dalam program tahfidz, bahkan beberapa guru mulai terlibat aktif dalam pendampingan keagamaan.

Dengan semangat yang sama, SMP Negeri 2 Kedungreja terus membuka ruang seluas-luasnya bagi peserta didik untuk tumbuh dalam lingkungan yang tidak hanya mendukung kecerdasan intelektual, tetapi juga memperkokoh fondasi iman dan takwa. Wisuda Khatmil Qur’an ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju generasi rahmatan lil 'alamin yang akan membawa kebaikan di bumi Nusantara tercinta.


Makna Logo SMP Negeri 2 Kedungreja : "Simbol Pendidikan, Jiwa, dan Harapan"

  • Oleh
Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd.


Yuuuk kita kenali makna logo sekolah kita tercinta!

Logo SMP Negeri 2 Kedungreja bukan sekadar lambang. Logo ini dibuat oleh Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd. Kepala SMP Negeri 2 Kedungreja sebagai hadiah kepada sekolah tercinta pada Hari Ulang Tahunnya yang ke-26 yang bertepatan dengan 20 Oktober 2025. Logo ini adalah cermin dari semangat, nilai, dan identitas yang hidup dalam setiap sudut ruang kelas, dalam setiap langkah kaki siswa menuju gerbang masa depan. Dalam bentuk perisai yang kokoh, tersimpan filosofi mendalam tentang peran sekolah sebagai benteng ilmu dan pembentuk karakter generasi bangsa.

Di bagian atas, terpampang jelas tulisan “SMP NEGERI 2”—sebuah penegasan identitas yang tak hanya menunjukkan nama, tetapi juga menyiratkan tanggung jawab besar dalam mencetak siswa yang unggul. Di bawahnya, nama "KEDUNGREJA" membumi, mengakar kuat pada tanah kelahiran tempat sekolah ini berdiri dan berkembang.

Simbol topi wisuda dan pena tinta di tengah logo menggambarkan puncak dari sebuah perjalanan panjang bernama belajar. Topi wisuda adalah simbol keberhasilan, sedangkan pena tajam melambangkan ketekunan dan kecerdasan yang terus diasah setiap hari. Di bawahnya, buku terbuka adalah jendela ilmu, yang menandakan bahwa SMP Negeri 2 Kedungreja selalu membuka diri terhadap pengetahuan baru dan kemajuan zaman.

Tak berhenti di sana, terdapat Empat bintang ini mencerminkan empat pilar utama pembentukan karakter siswa: iman, ilmu, integritas, dan inspirasi. Mereka menjadi cahaya penuntun di sepanjang perjalanan pendidikan dari sekolah ini. Di antara simbol-simbol itu, tumbuh pula padi dan kapas, dua elemen klasik yang sarat makna. Padi melambangkan kemakmuran, sedangkan kapas mencerminkan keadilan sosial. Disatukan oleh simpul di tengah, keduanya menyampaikan pesan bahwa kesejahteraan dan kebijaksanaan harus berjalan beriringan.


Warna dasar biru pada logo menggambarkan kedamaian, kepercayaan diri, dan keluasan wawasan, seperti langit yang tak berbatas—begitulah harapan sekolah ini terhadap para siswanya.

Logo ini bukan sekadar desain. Ia adalah doa yang dibentuk dalam garis dan warna. Ia adalah kompas yang menunjukkan arah bagi guru, siswa, dan seluruh keluarga besar SMP Negeri 2 Kedungreja. Dengan semangat kebersamaan, visi yang kuat, dan nilai-nilai luhur, sekolah ini terus melangkah maju, mencetak generasi pembelajar yang tak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.

Secara detail tiap komponen logo tersebut bermakna sebagai berikut :

🔷 Bentuk Perisai

  • Makna: Melambangkan keteguhan dan perlindungan. SMP Negeri 2 Kedungreja sebagai lembaga pendidikan yang siap membentengi siswa dengan ilmu pengetahuan dan karakter kuat.

🔠 Tulisan "SMP NEGERI 2" di bagian atas

  • Makna: Menunjukkan identitas resmi sekolah sebagai Sekolah Menengah Pertama Negeri dengan nomor urut 2 di wilayah Kedungreja.

📍 Tulisan "KEDUNGREJA" di pita putih bawah

  • Makna: Menunjukkan lokasi atau domisili sekolah, yaitu di Kecamatan Kedungreja.

🎓 Topi Wisuda

  • Makna: Simbol pencapaian dan keberhasilan dalam dunia pendidikan, menggambarkan tujuan akhir dari proses belajar yaitu kelulusan dan keberhasilan siswa.

✒️ Pena Ujung Runcing (Pena Tinta)

  • Makna: Melambangkan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan proses belajar mengajar. Pena adalah alat utama dalam mencatat ilmu dan berpikir kritis.

📖 Buku Terbuka

  • Makna: Melambangkan sumber ilmu pengetahuan dan semangat belajar yang terbuka. Buku juga menjadi simbol dasar dari pendidikan.

Empat Bintang Kuning

  • Melambangkan empat nilai utama yang menjadi pijakan pendidikan di SMPN 2 Kedungreja, yaitu:
    1. Iman – Berlandaskan kepercayaan kepada Tuhan sebagai fondasi moral.
    2. Ilmu – Mengutamakan wawasan dan pengetahuan sebagai bekal hidup.
    3. Integritas – Menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan etika.
    4. Inspirasi – Menjadi pribadi yang memberi pengaruh positif bagi lingkungan.

🌾 Padi

  • Makna: Simbol kemakmuran, kehidupan, dan kesejahteraan. Menggambarkan harapan agar lulusan sekolah ini dapat membawa manfaat bagi masyarakat.

💐 Kapas

  • Makna: Simbol keadilan sosial dan kesejahteraan. Padi dan kapas adalah lambang kemakmuran yang merata, mewakili semangat gotong royong dan keadilan.

🔗 Ikat Padi dan Kapas di Tengah

  • Makna: Menunjukkan kesatuan dan keharmonisan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemasyarakatan. Menggambarkan sinergi antara siswa, guru, dan masyarakat.

🔵 Warna Biru Latar

  • Makna: Melambangkan ketenangan, kedamaian, dan kepercayaan diri. Warna biru juga menggambarkan harapan yang tinggi serta cakrawala ilmu yang luas.


HISTORIKA Sejarah Lokal Cilacap

Oleh :

Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd.



A.   Cilacap Selayang Pandang

Kabupaten Cilacap merupakan daerah terluas di Jawa Tengah. Secara geografis Cilacap terletak di ujung selatan Pulau Jawa dengan batas wilayah sebelah selatan Samudra Indonesia, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten  Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pangandaran dan Kota Banjar Provinsi Jawa Barat.

Terletak diantara 10804-300 - 1090300300 garis Bujur Timur dan 70300 - 70450200 garis Lintang Selatan, mempunyai luas wilayah 225.360,840 Ha, yang terbagi menjadi 24 Kecamatan 269 desa dan 15 Kelurahan. Wilayah tertinggi adalah Kecamatan Dayeuhluhur dengan ketinggian 198 m dari permukaan laut dan wilayah terendah adalah Kecamatan Cilacap Tengah dengan ketinggian 6 m dari permukaan laut. Jarak terjauh dari barat ke timur 152 km dari Kecamatan Dayeuhluhur ke Kecamatan Nusawungu dan dari utara ke selatan sepanjang 35 km yaitu dari Kecamatan Cilacap Selatan ke Kecamatan Sampang.

Penduduk Kabupaten Cilacap bertutur dalam dua bahasa, sebagian bertutur dalam Bahasa Sunda, terutama di kecamatan-kecamatan yang berbatasan dengan Jawa Barat, seperti Dayeuhluhur, Wanareja, Kedungreja, Patimuan, Majenang, Cipari, Cimanggu, dan Karangpucung, dikarenakan bahwa pada masa lalu wilayah kabupaten ini adalah bagian dari Kerajaan Galuh. Ini tercatat dalam sebuah naskah kuno primer Bujangga Manik yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Bodleian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627. Naskah ini menceriterakan perjalanan Prabu Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16. Di zaman dulu batas Kerajaan Sunda di sebelah timur  adalah sungai Cipamali (yang saat ini sering disebut sebagai kali Brebes) dan sungai Ciserayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah. Penduduk Cilacap lainnya bertutur dalam Bahasa Jawa (Banyumasan)

Secara administratif  Kabupaten Cilacap terbagi dalam 24 kecamatan yaitu:

1.      Adipala

2.      Bantarsari

3.      Binangun

4.      Cilacap Selatan

5.      Cilacap Tengah

6.      Cilacap Utara

7.      Cimanggu

8.      Cipari

9.      Dayeuhluhur

10.   Gandrung Mangu

11.   Jeruklegi

12.   Kampung Laut

13.   Karang Pucung

14.   Kawunganten

15.   Kedungreja

16.   Kesugihan

17.   Kroya

18.   Majenang

19.   Maos

20.   Nusawungu

21.   Patimuan

22.   Sampang

23.   Sidareja

24.   Wanareja

 


Visi Kabupaten Cilacap

Visi Pemerintah Kabupaten Cilacap sesuai RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Cilacap Tahun 2025-2029 adalah
"Menuju Cilacap Yang Maju, Berbudaya, Sejahtera, Adil Dan Merata (MAJU DAN BESAR)"

 

Misi Kabupaten Cilacap

Untuk mewujudkan visi tersebut, Pemerintah Kabupaten Cilacap merumuskan 5 (lima) misi,  sebagai berikut:

1.   Mewujudkan sumber daya masyarakat yang unggul,
terampil dan andal

2.   Mewujudkan ekonomi daerah yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan

3.   Mewujudkan masyarakat yang Sejahtera, berbudaya, berkarakter dan inklusif

4.   Mewujudkan pembangunan daerah yang merata, berkeadilan dan berkelanjutan

5.   Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik

 

Kabupaten Cilacap dikenal juga dengan sebutan Bumi Wijaya Kusuma. Ada banyak pemimpin yang telah mengabdikan dirinya untuk kemajuan Kabupaten Cilacap sejak berdiri sampai saat ini. Urutan para bupati yang telah memimpin Kabupaten Cilacap adalah sebagai berikut :

1.     R. Tumenggung Tjakra Werdana II (1858-1873)

2.     R. Tumenggung Tjakra Werdana III (1873-1875)

3.     R. Tumenggung Tjakra Werdana IV (1875-1881)

4.     R.M Adipati Tjakrawerdaya (1882-1927)

5.     R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya (1927-1950)

6.     Raden Mas Soetedjo (1950-1952)

7.     R. Witono (1952-1954)

8.     Raden Mas Kodri (1954-1958)

9.     D.A Santoso (1958-1965)

10.  Hadi Soetomo (1965-1968)

11.  HS. Kartabrata (1968-1974)

12.  H. RYK. Moekmin (1974-1979)

13.  Poedjono Pranyoto (1979-1987)

14.  H. Mohamad Supardi (1987-1997)

15.  H. Herry Tabri Karta, SH (1997-2002)

16.  H. Probo Yulastoro, S.Sos, MM, M.Si (2002-2009)

17.  H. Tatto Suwarto Pamuji (2011-2024).

18.  Dr. Syamsul Aulia Rahman, S.STP., M.Si. (2025-sekarang

 

B.   Tapak Jejak Sejarah Lokal Cilacap

Kerajaan Nusatembini merupakan sebuah sejarah yang bagi masyarakat Cilacap memiliki nilai tinggi. Pada abad 15, di kota Cilacap pada masa itu, telah ada Kerajaan yang dipimpin Ratu Brantarara, pewaris Raja Sri Pulebahas. Dalam catatan teks Tedhakan serat Soedjarah  Joedanagaran bagian dari Babad Banyumas (utarga 1984 dalam Priyadi, 2013:77), Kerajaan Nusatembini memiliki hubungan darah dengan Kerajaan Pajajaran, dimana Raja Sri Pulebahas merupakan keturunan kelima dari Raja Pajajaran.

Tidak main-main, pada masa Ratu Brantarara Kerajaan Nusatembini pernah berperang besar dengan kerajaan besar pelajaran. Cerita ini merupakan bagian dari legenda besar Kamandaka (Banyak Catra) putra mahkota Pajajaran.

Menyambung benang merah sejarah antara Kerajaan  Nusatembini dengan Pajajaran menjadi penting bagi masyarakat Cilacap. Setidaknya hal tersebut menggambarkan bahwa masyarakat Cilacap di masa lampau telah memiliki peradaban tinggi. Meskipun kemudian runtuh karena perang dengan Pajajaran, tetapi cerita perang dan gambaran istana Kerajaan Nusatembini memiliki arsitektur yang hebat dalam membendung serangan musuh. Disebut Buluwarti Pring Ori Sap (Priyadi, 2013: 77)

Sejarah Nusatembini menjadi buki bahwa masyarakat Cilacap di masa lampau telah  mengalami kejayaan dan kemakmuran, bahkan hampir  sama dengan Kerajaan Pajajaran. Latar belakang perang  yang sebab air mata kuda sembrani, hanyalah simbol bahwa Nusatembini memiliki sesuatu yang melebihi Pajajaran, tentang sebuah sejarah politik di masa lalu antara Nusatembini dan Pajajaran. Simbol ini akan menarik untuk  ditafsirkan, dianalisis, tentang sebuah sejarah sosial politik dimasa lalu antara  Nusatembini dan Pajajaran.

Hubungan lama antara Nusatembini dan Pajajaran menggambarkan sisi kehidupan kepercayaan masyarakat  Cilacap di masa lalu yang berpola Hindu-Budha. Bukti ini menjadi penting untuk  menyusun argumentasi  hipotesis bahwa setidaknya mulai  masuknya Islam dari arah kerajaan Demak di Cilacap adalah sejak  runtuhnya Nusatembini.

Secara umum, benang merah Nusatembini dan Pajajaran menjelaskan mengapa kehidupan masyarakat di kabupaten Cilacap sekarang ini yang sebagian beretnik Sunda, selain Jawa Banyumas. Sejarah ini menjadikan kebudayaan Cilacap sangat unik.

Tentu karena selain berdekatan dengan wilayah batas kerajaan beretnik Jawa, sejarah Cilacap di masa lalu masih banyak perlu ditemukan. Selain benang merah dengan Pajajaran, adakah  benang merah dengan kerajaan lain di Jawa.

Di Indonesia keberadaan sejarah  masih  dipandang sebelah mata bahkan belum dianggap penting, inilah yang kemudian menjadi penulisan sejarah  kurang diminati terlebih lagi penulisan tentang sejarah lokal.  Sehingga sejarah hanya menjadi legenda bahkan hanya sesuatu yang lewat begitu saja tanpa ada yang memperdulikanya.  Sejarah Indonesia adalah sejarah yang penuh dengan mitos. Banyak penulisan sejarah lokal dikaitkan ataupun dikuatkan dengan adanya mitos yang berkembang dan menggiringinya.

Sejarah kota Cilacap memang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Donan yang diwarnai dengan mitos-mitos yang sampai sekarangpun masih diyakini keberadaanya. Berawal dari migrasi orang Banyumas ke Donan dan berhubungan juga dengan kerajaan  Demak. Dalam ulasan ini penulis juga menyertakan juga benda-benda pusaka  antara lain Kyai Tilam Upih ada lagi sosok Garuda Beri serta Santri Undig  yang  pasti akan menambah  penasaran kita akan hal tersebut.  Posisi Donan sangatlah penting dalam pembentukan kabupaten Cilacap, dimana awal dari  pembukaan hutan untuk pemukiman di wilayah Banyumas selatan berawal di Donan ini. Dan berkembang menjadi wilayah yang ramai tercatat pada tanggal 1 Januari 1839 banyak migrasi orang dari Banyumas ke wilayah ini. Dan Cilacap  dijadikan sebagai Afdeling tersendiri yang dipisahkan dari Banyumas.

Membaca sejarah lokal, sama menariknya seperti menonton film pendekar. Tentu saja bumbu mistisme, kekuatan supranatural, dan segala mitologinya secara  umum dapat ditemukan dalam naskah-naskah sejarah lokal. Gaya penulisan seperti ini tampaknnya akan merayu pembaca untuk berimajinasi tentang dunia mitos dan  “ruang bioskop”

Tidak ada salahnya mitologi dan  sejarah disatukan.  Kenyataanya,  mitologi menjadi kekuatan, dihargai sebagai nilai sosial tertentu dalam masyarakat kita. Tokoh-tokoh sejarah dimasa lalu dipercaya memiliki kekuatan supranatural. Hal ini cukup berperan mendorong perubahan sosial dan politik, bahkan mungkin hingga sekarang.

Pada masa kekuasaan Adipati Donan (sekarang Cilacap), hidup burung Garuda yang sering menganggu hewan ternak warga. Sang adipati  saat itu, Adipati Ronggosengoro mengadakan  sayembara. Siapapun yang mampu membunuh burung Garuda, akan diberi hadiah akan dinikahkan dengan putri adipati. Sayembara ini menarik banyak peminat dari kalangan adipati daerah lain.

Peristiwa sejarah tampaknya bersamaan dengan masa kekuasaan kerajaan Demak, ditengarai tokoh utama yaitu Santri Undig yang sebenarnya adalah seorang utusan Kerajaan Demak. Tugasnya adalah “merampas” keris pusaka milik kerajaan yang dipegang Adipari Donan. Santri Undig memilih cara-cara halus dengan meminjam keris untuk membunuh Garuda. Meski keberatan, Adipati Donan kemudian menyerahkannya. Akhirnya burung Garuda dapat dibunuh oleh Santri Undig dengan keris pusaka.

Keris pusaka tersebut kemudian dibawa bersama Santri Undig ke berbagai daerah pelosok. Salah satunya di Kecamatan Kalipucang, Ciamis, Jawa Barat sekarang. Keris pusaka mampu mengatasi bahaya pusaran air sungai Kali Totogan yang mengancam keselamatan perahu-perahu. Keadaan sungai pun menjadi aman untuk dilewati angkutan perahu warga.

Selain Ciamis, akhirnya Santi Undig sampai ke Desa Karang Poh, yang sekarang menjadi Desa Kuripan, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap. Menjelang waktu sholat Maghrib, Santri Undig menggunakan keris pusaka untuk membuat mata air  yang kemudian digunakan untuk berwudhu oleh rombongan Santri Undig. Tempat keluarnya mata air ini kemudian dikenal dengan sebagai Grumbul Sumur Gemuling.  Di tempat ini pula, Santri Undig membangun tempat sholat, yang kemudian dikenal oleh warga sekitar sebagai panembahan.

Santri Undig kemudian dikenal sebagai Kyai Santri Undig, yang berceramah/dakwah dan menjadi imam sholat. Menurut juru kunci Panembahan Sumur Gemuling, Kyai Santri Undig merupakan murid Raden Said atau lebih dikenal sebagai Sunan Kalijaga, wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa.

Sejarah situs panembahan Sumur Gemuling sangat menarik untuk dikaji lebih jauh secara ilmiah,  setidaknya dari keilmuan sejarah sosial politik. Karakter Santri Undig yang merupakan murid Sunan Kalijaga seorang anggota Wali Songo penyebar agama Islam, Wali Songo dikenal sebagai penyebar agama Islam di Tanah Jawa pada abad 14. Peranan mereka sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa. Era Wali Songo adalah juga era berakhirnya dominasi Hindu-Budha. Menjadi nilai sejarah, yaitu peta sejarah politik penyebaran agama Islam pada masa Kerajaan Demak, khususnya di Kabupaten Cilacap pada masa lalu. Keterangan juru kunci Panembahan yang menceritakan Kyai Santri Undig pernah berceramah dan memimpin imam sholat adalah referensi yang cukup kuat. Tidak menutup kemungkinan bahwa penyebaran agama Islam khususnya di Kabupaten Cilacap memiliki keterkaitan dengan peran Wali Songo dan Kerajaan Demak. Meskipun situs ini kemudian menjadi keramat, tempat mencari kekayaan dengan meminta doa, serta membakar dupa, hal ini menjadi kajian tersendiri mengenai perubahan sosial keagamaan masyarakat lokal.

Keris merupakan benda yang memiliki makna filosofi mendalam. Para Raja memesan keris kepada Empu dengan harapan dan tujuan tertentu. Bentuk-bentuk keris berbeda-beda, berbelok-belok ( Luk 7,9,13) dan pamor. Keris pusaka milik Kerajaan Demak yang dipegang Adipati Donan dapat dikaji sebagai sejarah relasi politik antara Kerajaan Demak dengan Kadipaten Donan (Cilacap sekarang) di masa lalu. Kisah sayembara dan keris menjadi subjek kajian mengenai cara-cara berpolitik, kedudukan politik, dan bagaimana kemudian menjadi  memperkaya  sejarah besar Kerajaan Demak. Sangat kuat bahwa keris pusaka dalam kisah sejarah ini dapat ditelusuri keberadaannya. Sebab keris pusaka suatu kerajaan biasanya memiliki nama, dijaga dengan hati-hati dan aman.

Kajian atau penelitian lebih jauh mengenai situs Panembahan Sumur  Gemuling menjadi layak untuk dilakukan. Hasilnya akan mengangkat peninggalan sejarah lokal menjadi bagian untuk memperkaya sejarah nasional. Kepentingan lokal daerah menjadi strategis  kaitannya dengan asal muasal dan identitas Kabupaten Cilacap di masa depan.

Istilah sejarah lokal bagi masyarakat terasa masih asing, pada hal setiap daerah pasti mempunyai sejarahnya sendiri. Pengertian sejarah lokal adalah peristiwa sejarah yang terjadi pada kelompok masyarakat tertentu dan berada pada daerah geografis tertentu, atau studi tentang kehidupan masyarakat atau komunitas  dari lingkungan tertentu dalam berbagai dinamika aspek kehidupannya (Moh. Ali 2005: 155).

Kabupaten Cilacap sebagai salah satu wilayah dengan kondisi geografis terluas di Provinsi Jawa Tengah dan jumlah demografisnya yang tidak sedikit, juga memiliki tapak-tapak sejarah bagi kehidupan masyarakatnya. Salah satu tempat tapak sejarah tersebut terdapat di Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan, yaitu terdapat sebuah makam yang dinamakan sebagai makam Panembahan Daun Lumbung.

Kajian mengenai sejarah kisah makam Panembahan Daun Lumbung, menggunakan metode penelitian etnografi. Metode ini bersifat holistic-integratif  (thick discription) dan analisis kualitatif dalam rangka mendapatkan informasi dari sudut pandang penduduk asli / native’s point of view  (James P spradley. 1997: XVI).  Dalam pendekatan etnografi ini tidak hanya mempelajari masyarakat, lebih dari itu etnografi berarti belajar dari masyarakat. Artinya tidak hanya mempelajari kronologi  latar belakang sejarah makam Panembahan Daun Lumbung saja, khususnya dari juru kunci Daun Lumbung dan sudut pandang penduduk asli lainnya, tetapi lebih dari itu, juga dapat belajar dari makna-makna budaya setempat.

Terbatasnya sumber tertulis merupakan salah satu faktor yang menjadikan sejarah lokal belum berkembang dengan baik. Dalam menggali sejarah lokal di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari apa yang namanya sumber lisan. Hal ini sangat erat kaitanya dengan kelokalan suatu daerah.  Kebiasaan untuk menuliskan segala sesuatu yang pernah terjadi di lingkungan sekitar belum merupakan suatu  kebutuhan yang perlu dilakukan oleh sebagian dari pola kehidupan masyarakat  bahkan hanya dipandang sebelah mata ironisnya lagi kegiatan tersebut dianggap sebagai suatu kegiatan yang sia-sia dan membuang waktu. Tidak heran sumber tertulis mengenai masa lalu suatu komunitas masyarakat di tempat atau lokalitas tertentu sangat  terbatas, bahkan mungkin sumber lisan berupa tradisi lisan adalah satu-satunya akses untuk mendapatkan informasi tersebut.

Nama suatu wilayah biasanya dihubungkan dengan suatu benda demikian juga Kalikudi, dimana terdiri dari  dua suku  kata kali dan kudi, kata kali berasal  dari kata  akali  yang berarti menggunakan akal sedangkan  kudi Cenggarang yang merupakan senjata tradisional yang digunakan pada saat babad alas wilayah ini sehingga digabung menjadi Kalikudi.

Selain sejarah tersebut diungkap juga tentang  budaya lokal serta peninggalan sejarahnya. Peninggalan tersebut antara lain : Panembahan Depok,  Beji atau sumur Ketos, tempat istirahat Cikal Bakal, Pasemuan, Kudi, Barongan Ebeg, Kitab serta Makam. Sedangkan budaya yang masih berkembang dan dilestarikan antara lain: Resik kubur, Sadran, Dandan, Punggahan, Pundhunan, Labuhan Sedekah Bumi atau Memetri Bumi, Nyadran, Wukon,  Sowan, Na’as desa serta Among-among hmmmm sungguh suatu mozaik yang sangat indah bukan.