SIGIT KINDARTO

"SELAMAT DATANG DI BLOG SANG OEMAR BAKRI"

Senin, 19 Januari 2026

HISTORIKA Sejarah Lokal Cilacap

Oleh :

Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd.



A.   Cilacap Selayang Pandang

Kabupaten Cilacap merupakan daerah terluas di Jawa Tengah. Secara geografis Cilacap terletak di ujung selatan Pulau Jawa dengan batas wilayah sebelah selatan Samudra Indonesia, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten  Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pangandaran dan Kota Banjar Provinsi Jawa Barat.

Terletak diantara 10804-300 - 1090300300 garis Bujur Timur dan 70300 - 70450200 garis Lintang Selatan, mempunyai luas wilayah 225.360,840 Ha, yang terbagi menjadi 24 Kecamatan 269 desa dan 15 Kelurahan. Wilayah tertinggi adalah Kecamatan Dayeuhluhur dengan ketinggian 198 m dari permukaan laut dan wilayah terendah adalah Kecamatan Cilacap Tengah dengan ketinggian 6 m dari permukaan laut. Jarak terjauh dari barat ke timur 152 km dari Kecamatan Dayeuhluhur ke Kecamatan Nusawungu dan dari utara ke selatan sepanjang 35 km yaitu dari Kecamatan Cilacap Selatan ke Kecamatan Sampang.

Penduduk Kabupaten Cilacap bertutur dalam dua bahasa, sebagian bertutur dalam Bahasa Sunda, terutama di kecamatan-kecamatan yang berbatasan dengan Jawa Barat, seperti Dayeuhluhur, Wanareja, Kedungreja, Patimuan, Majenang, Cipari, Cimanggu, dan Karangpucung, dikarenakan bahwa pada masa lalu wilayah kabupaten ini adalah bagian dari Kerajaan Galuh. Ini tercatat dalam sebuah naskah kuno primer Bujangga Manik yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Bodleian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627. Naskah ini menceriterakan perjalanan Prabu Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16. Di zaman dulu batas Kerajaan Sunda di sebelah timur  adalah sungai Cipamali (yang saat ini sering disebut sebagai kali Brebes) dan sungai Ciserayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah. Penduduk Cilacap lainnya bertutur dalam Bahasa Jawa (Banyumasan)

Secara administratif  Kabupaten Cilacap terbagi dalam 24 kecamatan yaitu:

1.      Adipala

2.      Bantarsari

3.      Binangun

4.      Cilacap Selatan

5.      Cilacap Tengah

6.      Cilacap Utara

7.      Cimanggu

8.      Cipari

9.      Dayeuhluhur

10.   Gandrung Mangu

11.   Jeruklegi

12.   Kampung Laut

13.   Karang Pucung

14.   Kawunganten

15.   Kedungreja

16.   Kesugihan

17.   Kroya

18.   Majenang

19.   Maos

20.   Nusawungu

21.   Patimuan

22.   Sampang

23.   Sidareja

24.   Wanareja

 


Visi Kabupaten Cilacap

Visi Pemerintah Kabupaten Cilacap sesuai RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Cilacap Tahun 2025-2029 adalah
"Menuju Cilacap Yang Maju, Berbudaya, Sejahtera, Adil Dan Merata (MAJU DAN BESAR)"

 

Misi Kabupaten Cilacap

Untuk mewujudkan visi tersebut, Pemerintah Kabupaten Cilacap merumuskan 5 (lima) misi,  sebagai berikut:

1.   Mewujudkan sumber daya masyarakat yang unggul,
terampil dan andal

2.   Mewujudkan ekonomi daerah yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan

3.   Mewujudkan masyarakat yang Sejahtera, berbudaya, berkarakter dan inklusif

4.   Mewujudkan pembangunan daerah yang merata, berkeadilan dan berkelanjutan

5.   Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik

 

Kabupaten Cilacap dikenal juga dengan sebutan Bumi Wijaya Kusuma. Ada banyak pemimpin yang telah mengabdikan dirinya untuk kemajuan Kabupaten Cilacap sejak berdiri sampai saat ini. Urutan para bupati yang telah memimpin Kabupaten Cilacap adalah sebagai berikut :

1.     R. Tumenggung Tjakra Werdana II (1858-1873)

2.     R. Tumenggung Tjakra Werdana III (1873-1875)

3.     R. Tumenggung Tjakra Werdana IV (1875-1881)

4.     R.M Adipati Tjakrawerdaya (1882-1927)

5.     R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya (1927-1950)

6.     Raden Mas Soetedjo (1950-1952)

7.     R. Witono (1952-1954)

8.     Raden Mas Kodri (1954-1958)

9.     D.A Santoso (1958-1965)

10.  Hadi Soetomo (1965-1968)

11.  HS. Kartabrata (1968-1974)

12.  H. RYK. Moekmin (1974-1979)

13.  Poedjono Pranyoto (1979-1987)

14.  H. Mohamad Supardi (1987-1997)

15.  H. Herry Tabri Karta, SH (1997-2002)

16.  H. Probo Yulastoro, S.Sos, MM, M.Si (2002-2009)

17.  H. Tatto Suwarto Pamuji (2011-2024).

18.  Dr. Syamsul Aulia Rahman, S.STP., M.Si. (2025-sekarang

 

B.   Tapak Jejak Sejarah Lokal Cilacap

Kerajaan Nusatembini merupakan sebuah sejarah yang bagi masyarakat Cilacap memiliki nilai tinggi. Pada abad 15, di kota Cilacap pada masa itu, telah ada Kerajaan yang dipimpin Ratu Brantarara, pewaris Raja Sri Pulebahas. Dalam catatan teks Tedhakan serat Soedjarah  Joedanagaran bagian dari Babad Banyumas (utarga 1984 dalam Priyadi, 2013:77), Kerajaan Nusatembini memiliki hubungan darah dengan Kerajaan Pajajaran, dimana Raja Sri Pulebahas merupakan keturunan kelima dari Raja Pajajaran.

Tidak main-main, pada masa Ratu Brantarara Kerajaan Nusatembini pernah berperang besar dengan kerajaan besar pelajaran. Cerita ini merupakan bagian dari legenda besar Kamandaka (Banyak Catra) putra mahkota Pajajaran.

Menyambung benang merah sejarah antara Kerajaan  Nusatembini dengan Pajajaran menjadi penting bagi masyarakat Cilacap. Setidaknya hal tersebut menggambarkan bahwa masyarakat Cilacap di masa lampau telah memiliki peradaban tinggi. Meskipun kemudian runtuh karena perang dengan Pajajaran, tetapi cerita perang dan gambaran istana Kerajaan Nusatembini memiliki arsitektur yang hebat dalam membendung serangan musuh. Disebut Buluwarti Pring Ori Sap (Priyadi, 2013: 77)

Sejarah Nusatembini menjadi buki bahwa masyarakat Cilacap di masa lampau telah  mengalami kejayaan dan kemakmuran, bahkan hampir  sama dengan Kerajaan Pajajaran. Latar belakang perang  yang sebab air mata kuda sembrani, hanyalah simbol bahwa Nusatembini memiliki sesuatu yang melebihi Pajajaran, tentang sebuah sejarah politik di masa lalu antara Nusatembini dan Pajajaran. Simbol ini akan menarik untuk  ditafsirkan, dianalisis, tentang sebuah sejarah sosial politik dimasa lalu antara  Nusatembini dan Pajajaran.

Hubungan lama antara Nusatembini dan Pajajaran menggambarkan sisi kehidupan kepercayaan masyarakat  Cilacap di masa lalu yang berpola Hindu-Budha. Bukti ini menjadi penting untuk  menyusun argumentasi  hipotesis bahwa setidaknya mulai  masuknya Islam dari arah kerajaan Demak di Cilacap adalah sejak  runtuhnya Nusatembini.

Secara umum, benang merah Nusatembini dan Pajajaran menjelaskan mengapa kehidupan masyarakat di kabupaten Cilacap sekarang ini yang sebagian beretnik Sunda, selain Jawa Banyumas. Sejarah ini menjadikan kebudayaan Cilacap sangat unik.

Tentu karena selain berdekatan dengan wilayah batas kerajaan beretnik Jawa, sejarah Cilacap di masa lalu masih banyak perlu ditemukan. Selain benang merah dengan Pajajaran, adakah  benang merah dengan kerajaan lain di Jawa.

Di Indonesia keberadaan sejarah  masih  dipandang sebelah mata bahkan belum dianggap penting, inilah yang kemudian menjadi penulisan sejarah  kurang diminati terlebih lagi penulisan tentang sejarah lokal.  Sehingga sejarah hanya menjadi legenda bahkan hanya sesuatu yang lewat begitu saja tanpa ada yang memperdulikanya.  Sejarah Indonesia adalah sejarah yang penuh dengan mitos. Banyak penulisan sejarah lokal dikaitkan ataupun dikuatkan dengan adanya mitos yang berkembang dan menggiringinya.

Sejarah kota Cilacap memang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Donan yang diwarnai dengan mitos-mitos yang sampai sekarangpun masih diyakini keberadaanya. Berawal dari migrasi orang Banyumas ke Donan dan berhubungan juga dengan kerajaan  Demak. Dalam ulasan ini penulis juga menyertakan juga benda-benda pusaka  antara lain Kyai Tilam Upih ada lagi sosok Garuda Beri serta Santri Undig  yang  pasti akan menambah  penasaran kita akan hal tersebut.  Posisi Donan sangatlah penting dalam pembentukan kabupaten Cilacap, dimana awal dari  pembukaan hutan untuk pemukiman di wilayah Banyumas selatan berawal di Donan ini. Dan berkembang menjadi wilayah yang ramai tercatat pada tanggal 1 Januari 1839 banyak migrasi orang dari Banyumas ke wilayah ini. Dan Cilacap  dijadikan sebagai Afdeling tersendiri yang dipisahkan dari Banyumas.

Membaca sejarah lokal, sama menariknya seperti menonton film pendekar. Tentu saja bumbu mistisme, kekuatan supranatural, dan segala mitologinya secara  umum dapat ditemukan dalam naskah-naskah sejarah lokal. Gaya penulisan seperti ini tampaknnya akan merayu pembaca untuk berimajinasi tentang dunia mitos dan  “ruang bioskop”

Tidak ada salahnya mitologi dan  sejarah disatukan.  Kenyataanya,  mitologi menjadi kekuatan, dihargai sebagai nilai sosial tertentu dalam masyarakat kita. Tokoh-tokoh sejarah dimasa lalu dipercaya memiliki kekuatan supranatural. Hal ini cukup berperan mendorong perubahan sosial dan politik, bahkan mungkin hingga sekarang.

Pada masa kekuasaan Adipati Donan (sekarang Cilacap), hidup burung Garuda yang sering menganggu hewan ternak warga. Sang adipati  saat itu, Adipati Ronggosengoro mengadakan  sayembara. Siapapun yang mampu membunuh burung Garuda, akan diberi hadiah akan dinikahkan dengan putri adipati. Sayembara ini menarik banyak peminat dari kalangan adipati daerah lain.

Peristiwa sejarah tampaknya bersamaan dengan masa kekuasaan kerajaan Demak, ditengarai tokoh utama yaitu Santri Undig yang sebenarnya adalah seorang utusan Kerajaan Demak. Tugasnya adalah “merampas” keris pusaka milik kerajaan yang dipegang Adipari Donan. Santri Undig memilih cara-cara halus dengan meminjam keris untuk membunuh Garuda. Meski keberatan, Adipati Donan kemudian menyerahkannya. Akhirnya burung Garuda dapat dibunuh oleh Santri Undig dengan keris pusaka.

Keris pusaka tersebut kemudian dibawa bersama Santri Undig ke berbagai daerah pelosok. Salah satunya di Kecamatan Kalipucang, Ciamis, Jawa Barat sekarang. Keris pusaka mampu mengatasi bahaya pusaran air sungai Kali Totogan yang mengancam keselamatan perahu-perahu. Keadaan sungai pun menjadi aman untuk dilewati angkutan perahu warga.

Selain Ciamis, akhirnya Santi Undig sampai ke Desa Karang Poh, yang sekarang menjadi Desa Kuripan, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap. Menjelang waktu sholat Maghrib, Santri Undig menggunakan keris pusaka untuk membuat mata air  yang kemudian digunakan untuk berwudhu oleh rombongan Santri Undig. Tempat keluarnya mata air ini kemudian dikenal dengan sebagai Grumbul Sumur Gemuling.  Di tempat ini pula, Santri Undig membangun tempat sholat, yang kemudian dikenal oleh warga sekitar sebagai panembahan.

Santri Undig kemudian dikenal sebagai Kyai Santri Undig, yang berceramah/dakwah dan menjadi imam sholat. Menurut juru kunci Panembahan Sumur Gemuling, Kyai Santri Undig merupakan murid Raden Said atau lebih dikenal sebagai Sunan Kalijaga, wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa.

Sejarah situs panembahan Sumur Gemuling sangat menarik untuk dikaji lebih jauh secara ilmiah,  setidaknya dari keilmuan sejarah sosial politik. Karakter Santri Undig yang merupakan murid Sunan Kalijaga seorang anggota Wali Songo penyebar agama Islam, Wali Songo dikenal sebagai penyebar agama Islam di Tanah Jawa pada abad 14. Peranan mereka sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa. Era Wali Songo adalah juga era berakhirnya dominasi Hindu-Budha. Menjadi nilai sejarah, yaitu peta sejarah politik penyebaran agama Islam pada masa Kerajaan Demak, khususnya di Kabupaten Cilacap pada masa lalu. Keterangan juru kunci Panembahan yang menceritakan Kyai Santri Undig pernah berceramah dan memimpin imam sholat adalah referensi yang cukup kuat. Tidak menutup kemungkinan bahwa penyebaran agama Islam khususnya di Kabupaten Cilacap memiliki keterkaitan dengan peran Wali Songo dan Kerajaan Demak. Meskipun situs ini kemudian menjadi keramat, tempat mencari kekayaan dengan meminta doa, serta membakar dupa, hal ini menjadi kajian tersendiri mengenai perubahan sosial keagamaan masyarakat lokal.

Keris merupakan benda yang memiliki makna filosofi mendalam. Para Raja memesan keris kepada Empu dengan harapan dan tujuan tertentu. Bentuk-bentuk keris berbeda-beda, berbelok-belok ( Luk 7,9,13) dan pamor. Keris pusaka milik Kerajaan Demak yang dipegang Adipati Donan dapat dikaji sebagai sejarah relasi politik antara Kerajaan Demak dengan Kadipaten Donan (Cilacap sekarang) di masa lalu. Kisah sayembara dan keris menjadi subjek kajian mengenai cara-cara berpolitik, kedudukan politik, dan bagaimana kemudian menjadi  memperkaya  sejarah besar Kerajaan Demak. Sangat kuat bahwa keris pusaka dalam kisah sejarah ini dapat ditelusuri keberadaannya. Sebab keris pusaka suatu kerajaan biasanya memiliki nama, dijaga dengan hati-hati dan aman.

Kajian atau penelitian lebih jauh mengenai situs Panembahan Sumur  Gemuling menjadi layak untuk dilakukan. Hasilnya akan mengangkat peninggalan sejarah lokal menjadi bagian untuk memperkaya sejarah nasional. Kepentingan lokal daerah menjadi strategis  kaitannya dengan asal muasal dan identitas Kabupaten Cilacap di masa depan.

Istilah sejarah lokal bagi masyarakat terasa masih asing, pada hal setiap daerah pasti mempunyai sejarahnya sendiri. Pengertian sejarah lokal adalah peristiwa sejarah yang terjadi pada kelompok masyarakat tertentu dan berada pada daerah geografis tertentu, atau studi tentang kehidupan masyarakat atau komunitas  dari lingkungan tertentu dalam berbagai dinamika aspek kehidupannya (Moh. Ali 2005: 155).

Kabupaten Cilacap sebagai salah satu wilayah dengan kondisi geografis terluas di Provinsi Jawa Tengah dan jumlah demografisnya yang tidak sedikit, juga memiliki tapak-tapak sejarah bagi kehidupan masyarakatnya. Salah satu tempat tapak sejarah tersebut terdapat di Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan, yaitu terdapat sebuah makam yang dinamakan sebagai makam Panembahan Daun Lumbung.

Kajian mengenai sejarah kisah makam Panembahan Daun Lumbung, menggunakan metode penelitian etnografi. Metode ini bersifat holistic-integratif  (thick discription) dan analisis kualitatif dalam rangka mendapatkan informasi dari sudut pandang penduduk asli / native’s point of view  (James P spradley. 1997: XVI).  Dalam pendekatan etnografi ini tidak hanya mempelajari masyarakat, lebih dari itu etnografi berarti belajar dari masyarakat. Artinya tidak hanya mempelajari kronologi  latar belakang sejarah makam Panembahan Daun Lumbung saja, khususnya dari juru kunci Daun Lumbung dan sudut pandang penduduk asli lainnya, tetapi lebih dari itu, juga dapat belajar dari makna-makna budaya setempat.

Terbatasnya sumber tertulis merupakan salah satu faktor yang menjadikan sejarah lokal belum berkembang dengan baik. Dalam menggali sejarah lokal di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari apa yang namanya sumber lisan. Hal ini sangat erat kaitanya dengan kelokalan suatu daerah.  Kebiasaan untuk menuliskan segala sesuatu yang pernah terjadi di lingkungan sekitar belum merupakan suatu  kebutuhan yang perlu dilakukan oleh sebagian dari pola kehidupan masyarakat  bahkan hanya dipandang sebelah mata ironisnya lagi kegiatan tersebut dianggap sebagai suatu kegiatan yang sia-sia dan membuang waktu. Tidak heran sumber tertulis mengenai masa lalu suatu komunitas masyarakat di tempat atau lokalitas tertentu sangat  terbatas, bahkan mungkin sumber lisan berupa tradisi lisan adalah satu-satunya akses untuk mendapatkan informasi tersebut.

Nama suatu wilayah biasanya dihubungkan dengan suatu benda demikian juga Kalikudi, dimana terdiri dari  dua suku  kata kali dan kudi, kata kali berasal  dari kata  akali  yang berarti menggunakan akal sedangkan  kudi Cenggarang yang merupakan senjata tradisional yang digunakan pada saat babad alas wilayah ini sehingga digabung menjadi Kalikudi.

Selain sejarah tersebut diungkap juga tentang  budaya lokal serta peninggalan sejarahnya. Peninggalan tersebut antara lain : Panembahan Depok,  Beji atau sumur Ketos, tempat istirahat Cikal Bakal, Pasemuan, Kudi, Barongan Ebeg, Kitab serta Makam. Sedangkan budaya yang masih berkembang dan dilestarikan antara lain: Resik kubur, Sadran, Dandan, Punggahan, Pundhunan, Labuhan Sedekah Bumi atau Memetri Bumi, Nyadran, Wukon,  Sowan, Na’as desa serta Among-among hmmmm sungguh suatu mozaik yang sangat indah bukan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar