Oleh :
Sigit Kindarto, S.Pd., M.Pd.
A. Cilacap Selayang Pandang
Kabupaten Cilacap
merupakan daerah terluas di Jawa Tengah. Secara geografis Cilacap terletak di
ujung selatan Pulau Jawa dengan batas wilayah sebelah selatan Samudra
Indonesia, sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten
Kuningan Provinsi Jawa Barat, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kebumen
dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pangandaran dan Kota Banjar
Provinsi Jawa Barat.
Terletak diantara 10804-300
- 1090300300 garis Bujur
Timur dan 70300 - 70450200 garis Lintang Selatan, mempunyai luas wilayah 225.360,840 Ha,
yang terbagi menjadi 24 Kecamatan 269 desa dan 15 Kelurahan. Wilayah tertinggi
adalah Kecamatan Dayeuhluhur dengan ketinggian 198 m dari permukaan laut dan
wilayah terendah adalah Kecamatan Cilacap Tengah dengan ketinggian 6 m dari
permukaan laut. Jarak terjauh dari barat ke timur 152 km dari Kecamatan
Dayeuhluhur ke Kecamatan Nusawungu dan dari utara ke selatan sepanjang 35 km
yaitu dari Kecamatan Cilacap Selatan ke Kecamatan Sampang.
Penduduk Kabupaten
Cilacap bertutur dalam dua bahasa, sebagian bertutur dalam Bahasa Sunda, terutama di kecamatan-kecamatan yang
berbatasan dengan Jawa
Barat, seperti
Dayeuhluhur, Wanareja, Kedungreja, Patimuan, Majenang, Cipari, Cimanggu, dan Karangpucung,
dikarenakan bahwa pada masa lalu wilayah kabupaten ini adalah bagian dari Kerajaan Galuh. Ini tercatat dalam sebuah naskah
kuno primer
Bujangga Manik yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Bodleian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627. Naskah ini menceriterakan perjalanan Prabu Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16. Di zaman dulu batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah sungai Cipamali (yang saat ini sering disebut sebagai
kali Brebes) dan sungai Ciserayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah. Penduduk Cilacap lainnya bertutur
dalam Bahasa Jawa (Banyumasan)
Secara
administratif Kabupaten Cilacap terbagi
dalam 24 kecamatan yaitu:
1. Adipala
2. Bantarsari
3. Binangun
4. Cilacap Selatan
5. Cilacap Tengah
6. Cilacap Utara
7. Cimanggu
8. Cipari
9. Dayeuhluhur
10. Gandrung Mangu
11. Jeruklegi
12. Kampung Laut
13. Karang Pucung
14. Kawunganten
15. Kedungreja
16. Kesugihan
17. Kroya
18. Majenang
19. Maos
20. Nusawungu
21. Patimuan
22. Sampang
23. Sidareja
24. Wanareja
Visi Kabupaten Cilacap
Visi Pemerintah Kabupaten Cilacap sesuai
RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Cilacap Tahun 2025-2029
adalah
"Menuju Cilacap Yang Maju,
Berbudaya, Sejahtera, Adil Dan Merata (MAJU DAN BESAR)"
Misi Kabupaten Cilacap
Untuk
mewujudkan visi tersebut, Pemerintah Kabupaten Cilacap merumuskan 5 (lima)
misi, sebagai berikut:
1. Mewujudkan sumber daya masyarakat yang unggul,
terampil dan andal
2. Mewujudkan ekonomi daerah yang mandiri,
berdaya saing, dan berkelanjutan
3. Mewujudkan masyarakat yang Sejahtera,
berbudaya, berkarakter dan inklusif
4. Mewujudkan pembangunan daerah yang merata, berkeadilan
dan berkelanjutan
5. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik
Kabupaten
Cilacap dikenal juga dengan sebutan Bumi Wijaya Kusuma. Ada banyak pemimpin
yang telah mengabdikan dirinya untuk kemajuan Kabupaten Cilacap sejak berdiri
sampai saat ini. Urutan para bupati yang telah memimpin Kabupaten Cilacap
adalah sebagai berikut :
1.
R. Tumenggung Tjakra Werdana II (1858-1873)
2.
R. Tumenggung Tjakra Werdana III (1873-1875)
3.
R. Tumenggung Tjakra Werdana IV (1875-1881)
4.
R.M Adipati Tjakrawerdaya (1882-1927)
5.
R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya (1927-1950)
6.
Raden Mas Soetedjo (1950-1952)
7.
R. Witono (1952-1954)
8.
Raden Mas Kodri (1954-1958)
9.
D.A Santoso (1958-1965)
10. Hadi
Soetomo (1965-1968)
11. HS.
Kartabrata (1968-1974)
12. H.
RYK. Moekmin (1974-1979)
13. Poedjono
Pranyoto (1979-1987)
14. H.
Mohamad Supardi (1987-1997)
15. H.
Herry Tabri Karta, SH (1997-2002)
16. H.
Probo Yulastoro, S.Sos, MM, M.Si (2002-2009)
17. H.
Tatto Suwarto Pamuji (2011-2024).
18. Dr.
Syamsul Aulia Rahman, S.STP., M.Si. (2025-sekarang
B.
Tapak Jejak
Sejarah Lokal Cilacap
Kerajaan Nusatembini merupakan sebuah sejarah
yang bagi masyarakat Cilacap memiliki nilai tinggi. Pada abad 15, di kota
Cilacap pada masa itu, telah ada Kerajaan yang dipimpin Ratu Brantarara,
pewaris Raja Sri Pulebahas. Dalam catatan teks Tedhakan serat Soedjarah Joedanagaran bagian dari Babad Banyumas
(utarga 1984 dalam Priyadi, 2013:77), Kerajaan Nusatembini memiliki hubungan
darah dengan Kerajaan Pajajaran, dimana Raja Sri Pulebahas merupakan keturunan
kelima dari Raja Pajajaran.
Tidak main-main, pada masa Ratu Brantarara
Kerajaan Nusatembini pernah berperang besar dengan kerajaan besar pelajaran.
Cerita ini merupakan bagian dari legenda besar Kamandaka (Banyak Catra) putra
mahkota Pajajaran.
Menyambung benang merah sejarah antara
Kerajaan Nusatembini dengan Pajajaran
menjadi penting bagi masyarakat Cilacap. Setidaknya hal tersebut menggambarkan
bahwa masyarakat Cilacap di masa lampau telah memiliki peradaban tinggi.
Meskipun kemudian runtuh karena perang dengan Pajajaran, tetapi cerita perang
dan gambaran istana Kerajaan Nusatembini memiliki arsitektur yang hebat dalam
membendung serangan musuh. Disebut Buluwarti Pring Ori Sap (Priyadi, 2013: 77)
Sejarah Nusatembini menjadi buki bahwa
masyarakat Cilacap di masa lampau telah
mengalami kejayaan dan kemakmuran, bahkan hampir sama dengan Kerajaan Pajajaran. Latar
belakang perang yang sebab air mata kuda
sembrani, hanyalah simbol bahwa Nusatembini memiliki sesuatu yang melebihi
Pajajaran, tentang sebuah sejarah politik di masa lalu antara Nusatembini dan
Pajajaran. Simbol ini akan menarik untuk
ditafsirkan, dianalisis, tentang sebuah sejarah sosial politik dimasa
lalu antara Nusatembini dan Pajajaran.
Hubungan lama antara Nusatembini dan Pajajaran
menggambarkan sisi kehidupan kepercayaan masyarakat Cilacap di masa lalu yang berpola
Hindu-Budha. Bukti ini menjadi penting untuk
menyusun argumentasi hipotesis
bahwa setidaknya mulai masuknya Islam
dari arah kerajaan Demak di Cilacap adalah sejak runtuhnya Nusatembini.
Secara umum, benang merah Nusatembini dan
Pajajaran menjelaskan mengapa kehidupan masyarakat di kabupaten Cilacap
sekarang ini yang sebagian beretnik Sunda, selain Jawa Banyumas. Sejarah ini menjadikan
kebudayaan Cilacap sangat unik.
Tentu karena selain berdekatan dengan wilayah
batas kerajaan beretnik Jawa, sejarah Cilacap di masa lalu masih banyak perlu
ditemukan. Selain benang merah dengan Pajajaran, adakah benang merah dengan kerajaan lain di Jawa.
Di Indonesia keberadaan sejarah masih
dipandang sebelah mata bahkan belum dianggap penting, inilah yang
kemudian menjadi penulisan sejarah
kurang diminati terlebih lagi penulisan tentang sejarah lokal. Sehingga sejarah hanya menjadi legenda bahkan
hanya sesuatu yang lewat begitu saja tanpa ada yang memperdulikanya. Sejarah Indonesia adalah
sejarah yang penuh dengan mitos. Banyak penulisan sejarah lokal dikaitkan
ataupun dikuatkan dengan adanya mitos yang berkembang dan menggiringinya.
Sejarah kota Cilacap memang tidak dapat
dipisahkan dengan sejarah Donan yang diwarnai dengan mitos-mitos yang sampai
sekarangpun masih diyakini keberadaanya. Berawal dari migrasi orang Banyumas ke
Donan dan berhubungan juga dengan kerajaan
Demak. Dalam ulasan ini penulis juga menyertakan juga benda-benda
pusaka antara lain Kyai Tilam Upih ada
lagi sosok Garuda Beri serta Santri Undig
yang pasti akan menambah penasaran kita akan hal tersebut. Posisi Donan sangatlah penting dalam pembentukan
kabupaten Cilacap, dimana awal dari
pembukaan hutan untuk pemukiman di wilayah Banyumas selatan berawal di
Donan ini. Dan berkembang menjadi wilayah yang ramai tercatat pada tanggal 1
Januari 1839 banyak migrasi orang dari Banyumas ke wilayah ini. Dan
Cilacap dijadikan sebagai Afdeling
tersendiri yang dipisahkan dari Banyumas.
Membaca sejarah lokal, sama menariknya seperti
menonton film pendekar. Tentu saja bumbu mistisme, kekuatan supranatural, dan
segala mitologinya secara umum dapat
ditemukan dalam naskah-naskah sejarah lokal. Gaya penulisan seperti ini
tampaknnya akan merayu pembaca untuk berimajinasi tentang dunia mitos dan “ruang bioskop”
Tidak ada salahnya mitologi dan sejarah disatukan. Kenyataanya,
mitologi menjadi kekuatan, dihargai sebagai nilai sosial tertentu dalam
masyarakat kita. Tokoh-tokoh sejarah dimasa lalu dipercaya memiliki kekuatan
supranatural. Hal ini cukup berperan mendorong perubahan sosial dan politik,
bahkan mungkin hingga sekarang.
Pada masa kekuasaan Adipati Donan (sekarang
Cilacap), hidup burung Garuda yang sering menganggu hewan ternak warga. Sang
adipati saat itu, Adipati Ronggosengoro
mengadakan sayembara. Siapapun yang
mampu membunuh burung Garuda, akan diberi hadiah akan dinikahkan dengan putri
adipati. Sayembara ini menarik banyak peminat dari kalangan adipati daerah
lain.
Peristiwa sejarah tampaknya bersamaan dengan
masa kekuasaan kerajaan Demak, ditengarai tokoh utama yaitu Santri Undig yang
sebenarnya adalah seorang utusan Kerajaan Demak. Tugasnya adalah “merampas”
keris pusaka milik kerajaan yang dipegang Adipari Donan. Santri Undig memilih
cara-cara halus dengan meminjam keris untuk membunuh Garuda. Meski keberatan,
Adipati Donan kemudian menyerahkannya. Akhirnya burung Garuda dapat dibunuh
oleh Santri Undig dengan keris pusaka.
Keris pusaka tersebut kemudian dibawa bersama
Santri Undig ke berbagai daerah pelosok. Salah satunya di Kecamatan Kalipucang,
Ciamis, Jawa Barat sekarang. Keris pusaka mampu mengatasi bahaya pusaran air
sungai Kali Totogan yang mengancam keselamatan perahu-perahu. Keadaan sungai
pun menjadi aman untuk dilewati angkutan perahu warga.
Selain Ciamis, akhirnya Santi Undig sampai ke
Desa Karang Poh, yang sekarang menjadi Desa Kuripan, Kecamatan Kesugihan,
Kabupaten Cilacap. Menjelang waktu sholat Maghrib, Santri Undig menggunakan
keris pusaka untuk membuat mata air yang
kemudian digunakan untuk berwudhu oleh rombongan Santri Undig. Tempat keluarnya
mata air ini kemudian dikenal dengan sebagai Grumbul Sumur Gemuling. Di tempat ini pula, Santri Undig membangun
tempat sholat, yang kemudian dikenal oleh warga sekitar sebagai panembahan.
Santri Undig kemudian dikenal sebagai Kyai
Santri Undig, yang berceramah/dakwah dan menjadi imam sholat. Menurut juru
kunci Panembahan Sumur Gemuling, Kyai Santri Undig merupakan murid Raden Said
atau lebih dikenal sebagai Sunan Kalijaga, wali penyebar agama Islam di Tanah
Jawa.
Sejarah situs panembahan Sumur Gemuling sangat
menarik untuk dikaji lebih jauh secara ilmiah,
setidaknya dari keilmuan sejarah sosial politik. Karakter Santri Undig
yang merupakan murid Sunan Kalijaga seorang anggota Wali Songo penyebar agama
Islam, Wali Songo dikenal sebagai penyebar agama Islam di Tanah Jawa pada abad
14. Peranan mereka sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa. Era
Wali Songo adalah juga era berakhirnya dominasi Hindu-Budha. Menjadi nilai
sejarah, yaitu peta sejarah politik penyebaran agama Islam pada masa Kerajaan
Demak, khususnya di Kabupaten Cilacap pada masa lalu. Keterangan juru kunci
Panembahan yang menceritakan Kyai Santri Undig pernah berceramah dan memimpin
imam sholat adalah referensi yang cukup kuat. Tidak menutup kemungkinan bahwa
penyebaran agama Islam khususnya di Kabupaten Cilacap memiliki keterkaitan
dengan peran Wali Songo dan Kerajaan Demak. Meskipun situs ini kemudian menjadi
keramat, tempat mencari kekayaan dengan meminta doa, serta membakar dupa, hal
ini menjadi kajian tersendiri mengenai perubahan sosial keagamaan masyarakat
lokal.
Keris merupakan benda yang memiliki makna
filosofi mendalam. Para Raja memesan keris kepada Empu dengan harapan dan
tujuan tertentu. Bentuk-bentuk keris berbeda-beda, berbelok-belok ( Luk 7,9,13)
dan pamor. Keris pusaka milik Kerajaan Demak yang dipegang Adipati Donan dapat
dikaji sebagai sejarah relasi politik antara Kerajaan Demak dengan Kadipaten
Donan (Cilacap sekarang) di masa lalu. Kisah sayembara dan keris menjadi subjek
kajian mengenai cara-cara berpolitik, kedudukan politik, dan bagaimana kemudian
menjadi memperkaya sejarah besar Kerajaan Demak. Sangat kuat
bahwa keris pusaka dalam kisah sejarah ini dapat ditelusuri keberadaannya.
Sebab keris pusaka suatu kerajaan biasanya memiliki nama, dijaga dengan
hati-hati dan aman.
Kajian atau penelitian lebih jauh mengenai
situs Panembahan Sumur Gemuling menjadi
layak untuk dilakukan. Hasilnya akan mengangkat peninggalan sejarah lokal
menjadi bagian untuk memperkaya sejarah nasional. Kepentingan lokal daerah
menjadi strategis kaitannya dengan asal
muasal dan identitas Kabupaten Cilacap di masa depan.
Istilah sejarah lokal
bagi masyarakat terasa masih asing, pada hal setiap daerah pasti mempunyai
sejarahnya sendiri. Pengertian sejarah lokal adalah peristiwa sejarah yang
terjadi pada kelompok masyarakat tertentu dan berada pada daerah geografis
tertentu, atau studi tentang kehidupan masyarakat atau komunitas dari lingkungan tertentu dalam berbagai
dinamika aspek kehidupannya (Moh. Ali 2005: 155).
Kabupaten Cilacap
sebagai salah satu wilayah dengan kondisi geografis terluas di Provinsi Jawa
Tengah dan jumlah demografisnya yang tidak sedikit, juga memiliki tapak-tapak
sejarah bagi kehidupan masyarakatnya. Salah satu tempat tapak sejarah tersebut
terdapat di Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan, yaitu terdapat
sebuah makam yang dinamakan sebagai makam Panembahan Daun Lumbung.
Kajian mengenai
sejarah kisah makam Panembahan Daun Lumbung, menggunakan metode penelitian
etnografi. Metode ini bersifat holistic-integratif (thick
discription) dan analisis kualitatif dalam rangka mendapatkan informasi
dari sudut pandang penduduk asli / native’s
point of view (James P spradley.
1997: XVI). Dalam pendekatan etnografi
ini tidak hanya mempelajari masyarakat, lebih dari itu etnografi berarti
belajar dari masyarakat. Artinya tidak hanya mempelajari kronologi latar belakang sejarah makam Panembahan Daun
Lumbung saja, khususnya dari juru kunci Daun Lumbung dan sudut pandang penduduk
asli lainnya, tetapi lebih dari itu, juga dapat belajar dari makna-makna budaya
setempat.
Terbatasnya
sumber tertulis merupakan salah satu faktor yang menjadikan sejarah lokal belum
berkembang dengan baik. Dalam menggali sejarah lokal di Indonesia tidak dapat
dilepaskan dari apa yang namanya sumber lisan. Hal ini sangat erat kaitanya
dengan kelokalan suatu daerah. Kebiasaan
untuk menuliskan segala sesuatu yang pernah terjadi di lingkungan sekitar belum
merupakan suatu kebutuhan yang perlu
dilakukan oleh sebagian dari pola kehidupan masyarakat bahkan hanya dipandang sebelah mata ironisnya
lagi kegiatan tersebut dianggap sebagai suatu kegiatan yang sia-sia dan
membuang waktu. Tidak heran sumber tertulis mengenai masa lalu suatu komunitas
masyarakat di tempat atau lokalitas tertentu sangat terbatas, bahkan mungkin sumber lisan berupa
tradisi lisan adalah satu-satunya akses untuk mendapatkan informasi tersebut.
Nama suatu wilayah biasanya dihubungkan dengan suatu benda demikian
juga Kalikudi, dimana terdiri dari dua
suku kata kali dan kudi, kata kali berasal
dari kata akali yang berarti
menggunakan akal sedangkan kudi Cenggarang yang merupakan senjata
tradisional yang digunakan pada saat babad
alas wilayah ini sehingga digabung menjadi Kalikudi.
Selain sejarah tersebut diungkap juga tentang budaya lokal serta peninggalan sejarahnya.
Peninggalan tersebut antara lain : Panembahan Depok, Beji atau sumur Ketos, tempat istirahat Cikal
Bakal, Pasemuan, Kudi, Barongan Ebeg, Kitab serta Makam. Sedangkan budaya yang
masih berkembang dan dilestarikan antara lain: Resik kubur, Sadran, Dandan,
Punggahan, Pundhunan, Labuhan Sedekah Bumi atau Memetri Bumi, Nyadran, Wukon, Sowan, Na’as desa serta Among-among hmmmm sungguh suatu mozaik yang sangat
indah bukan.
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar